Oleh
Dr. H. Srie Muldrianto, MPd*
SEMBOYAN atau moto Muhammadiyah “Islam Berkemajuan” masih relevan hingga kini, ini menunjukkan bahwa penggagas moto adalah seorang visioner. Tidak hanya berupa moto, Islam Berkemajuan memiliki nilai praktis dan pedoman yang harus diimplementasikan.
Amal Usaha Muhammadiyah adalah bukti nyata dari gagasan Islam Berkemajuan. Amal Usaha tersebut berupa Lembaga pendidikan, Kesehatan, Sosial Kemasyarakatan, Ekonomi dan Keuangan dan bidang usaha lainnya.
Dari sekian banyak Amal Usaha Muhammadiyah yang dikembangkan yang tampak nyata dan dirasakan kehadirannya adalah Lembaga pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, tingkat menengah, atas hingga Perguruan Tinggi.
Islam berkemajuan adalah menyemaikan benih-benih 1. Kebenaran, 2. Kebaikan, 3. Kedamaian, 4. Keadilan, 5. Kemaslahatan, 6. Kemakmuran, 7. Keutamaan hidup bagi seluruh umat manusia.
Nilai-nilai yang diusung ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah bergerak dalam tiga gerakan yaitu gerakan pemikiran, gerakan sosial dan gerakan spiritual yang bersifat inklusif. Membangun Muhammadiyah tidak hanya untuk kepentingan warga Muhammadiayah dan Islam tetapi bagi seluruh umat manusia. (Muhammadiyah.or.id)
Untuk mewujudkan Islam Berkemajuan, Muhammadiyah telah menetapkan 3 cara untuk meraihnya. Ketiga cara (epistemology) tersebut adalah melalui pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Konsep ini merupakan hasil penelitian dari Muhammad Abed Al Jabiri (1935-2010) tentang kritik nalar Arab (Critique of Arab Reason) yang dipublis pada tahun 1980.
Ketiga Epistemology tersebut merupakan ciri dan karakter warga Muhammadiyah untuk menegakkan Islam berkemajuan sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran:
Janganlah kamu lemah, dan janganlah kamu bersedih, padahal kamu lah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), Jika kamu orang-orang yang beriman (Ali Imron: 139).
Dari ayat ini kita memahami bahwa jika kita ingin digolongkan menjadi orang-orang beriman harus lebih unggul daripada orang lain. Unggul secara pemikiran, ilmu pengetahuan, sikap dan perilaku (akhlak), dan memiliki keunggulan keterampilan dan lainnya. Oleh karena itu untuk menuju keunggulan tersebut sebagai individu maupun sebagai organisasi dapat menerapkan ketiga konsep pada tataran praktis.
Pendekatan bayani artinya pendekatan dan cara untuk menyingkap nilai-nilai kebenaran yang ada dalam teks kitab suci. Oleh karena itu kajian Bahasa Arab, nahwu, shorof , ilmu tafsir, ilmu hadits, termasuk hapalan Alquran dan ilmu alat lainnya harus menjadi perhatian sesuai potensi peserta didik dan potensi sekolah/lembaga pendidikan.
Burhani adalah suatu pendekatan berbasis pada alasan argumentasi yang bersifat rasional sekaligus empirik. Oleh karena itu pembelajaran ilmu pengetahuan dan filsafat dapat dikembangkan sesuai dengan nilai-nilai kebenaran universal. Dasar-dasar ilmu pengetahuan seperti bahasa dan matematika serta dasar filsafat seperti logika dapat tumbuh subur dalam khazanah pemikiran warga Muhammadiyah.
Irfani merupakan metode atau cara untuk memahami, mempraktikan ajaran Islam yang berbasis pada ajaran tasawuf atau dalam kajian keilmuan semacam Ilmu Huduri (Presentif Knowledge) yang berbasiskan nurani dan kekuatan intuisi yang bersifat kodrati/firah.
Tasawuf dalam konsep Muhammadiyah dapat berbeda dengan konsep tasawuf lain karena lebih bersifat penerapan nilai-nilai seperti cinta Allah SWT dan tahapan-tahapan lainnya, secara praktis hal ini sudah dijalankan oleh guru besar kita yaitu Buya Hamka.
Sebagai kota kecil aktivis PCM Purwakarta berupaya mewujudkan cita-cita Islam berkemajuan dengan membangun beberapa Anak Usaha Muhammadiyah di beberapa tempat di kota Purwakarta. Pesantren modern telah didirikan dan diresmikan oleh Prof. Dr. Abdul Mu’ti pada 21 Januari 2024 yang dihadiri juga oleh Ir. H. Suhada mewakili wilayah Jawa Barat, Drs. Edwarsyah, M.M., dan Drs. Darta sebagai Ketua PCM Purwakarta.
Pola pembelajaran yang dilakukan berbasis pada “bukan menuangkan air ke dalam bejana tapi menyalakan api”. Penerapan ketiga epistemology telah mulai dilakukan dengan menerapkan pembelajaran berbahasa Arab, hapalan Alquran yang dikelola oleh beberapa alumni Gontor. Ke depan, di lokasi yang sama akan dibangun TK, SD, dan PKBM di samping SMP dan pesantren yang sedang berjalan.
Dalam upaya meningkatkan literasi membaca dan literasi numerasi sekolah akan menguatkan kemampuan dasar dalam bidang matematika dan sains dengan pola pembelajaran yang menyenangkan, misalnya dengan menggunakan metode Gasing (gampang, asik, dan menyenangkan) sebagaimana yang digagas Prof Yohanes Surya.
Sedangkan dalam menerapkan epistemology ketiga yaitu pendekatan irfani sekolah akan berupaya menerapkan pendidikan disiplin positif (membangun kesadaran secara internal). Model ini diterapkan dan dikembangkan oleh Sdr. Irfan Amali di Garut (Peacesantren). Sehingga Sekolah Muhammadiyah Purwakarta ke depan dapat menghasilkan lulusan cerdas akalnya, baik perilakunya, dan lembut hatinya.
Bagi yang ingin berdonasi demi terwujudnya tujuan kami silahkan dapat menyalurkan bantuannya melalui BSI, No. Rek: 7262742304 a.n PCM Purwakarta. Beramal kepada Lembaga Muhammadiyah berarti beramal untuk membesarkan organisasi bukan untuk pribadi.(*)
*) Wakil Ketua PCM Purwakarta, Bidang Tabligh, Tarjih, dan Dikdasmen PNF






