Science For Earth Sekolah Alam Purwakarta Dapat Apresiasi Anggota DPR RI

RESMIKAN MESIN PENCACAH. Anggota DPR RI Jalal Abdul Nasir saat menguji coba mesin pencacah sampah organik bantuan PLN di Sekolah Alam Purwakarta, Rabu (22/4/2026).

IDEANEWSID. Sekolah Alam Purwakarta yang berlokasi di Desa Benteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, kembali menggelar event Science For Earth dalam rangka menyambut Hari Bumi, Rabu (22/4/2026).

Yang istimewa, Science For Earth tahun ini dihadiri Anggota Komisi XII DPR RI Jalal Abdul Nasir, atau akrab disapa Haji Jalal. Kehadirannya untuk meresmikan mesin pencacah sampah organik yang merupakan bantuan dari PLN untuk Sekolah Alam Purwakarta.

Dalam sambutannya, Haji Jalal mengapresiasi Sekolah Alam Purwakarta yang konsisten meningkatkan kepedulian anak didiknya terhadap alam dan lingkungan sejak usia dini.

“Sekolah Alam Purwakarta menjadi jawaban di tengah tantangan perubahan iklim saat ini. Berhasil membentuk karakter siswa yang peduli alam sekitar. Dimulai dari kesadaran memilah sampah yang menjadi fondasi tata kelola sampah,” kata Haji Jalal.

Baca juga:  Wagub: Jabar Berpotensi Jadi Pionir Pengembangan Ekonomi Syariah Indonesia dan Dunia

Kegiatan Science For Earth ini, sambungnya, menegaskan bahwa sampah bisa dikelola mulai dari rumah, yakni dengan cara memilahnya, dan ini merupakan bagian dari pendidikan karakter.

Our Power Our Planet

Sementara itu, SC Science For Earth Sekolah Alam Purwakarta, Titin Komala Sari, mengatakan, Science For Earth merupakan agenda tahunan yang digelar bertepatan dengan Hari Bumi.

“Science For Earth kali ini mengangkat tema Our Power Our Planet dan menampilkan 27 karya siswa dari tingkat kelompok belajar, TK, SD, SMP dan SMA Vokasi,” ujar Titin.

Baca juga:  Joyfull Ramadan, Kemenag Purwakarta Sebar 150 Paket Sembako dan Santuni Anak Yatim

Jika di tahun-tahun sebelumnya Sekolah Alam lebih menekankan pada upaya meningkatkan kesadaran akan sampah, maka saat ini bagaimana mengubah kesadaran itu menjadi pembiasaan.

“Dengan demikian, pembelajaran di sekolah dibawa ke rumah sehingga menjadi suatu pembiasaan dan hal ini bisa berhasil jika melibatkan orang tua,” ucapnya.

Adapun karya siswa yang ditampilkan di antaranya Ember Tumpuk Kompos, Microgreen, Susu Sorgum hingga kukis berbahan daun kelor, buah bit dan pucuk daun bambu.

KREASI KUKIS. Siswa SMP Sekolah Alam Purwakarta menunjukkan kreasi kukis berbahan daun kelor dan buah bit pada event Science For Earth sebagai salah satu karya ikoniknya.

“Khusus kukis daun bambu telah diproduksi massal melibatkan warga sekitar. Bahkan pada Ramadan lalu kami berhasil menjual hingga 700 toples,” kata Titin.

Khusus mesin pencacah sampah organik bantuan PLN, Titin menjelaskan, bahwa Sekolah Alam Purwakarta merupakan sekolah yang kondisinya berada di bawah rimbun bambu. Sehingga, sampah organik berupa daun bambu kering melimpah.

Baca juga:  Purwakarta Incar Predikat Swasti Saba Wiwerda dalam Program Kabupaten Kota Sehat

“Kami mengakalinya dengan membuat parit dan menimbun daun daun bambu sehingga membusuk dan menjadi kompos. Hanya saja prosesnya membutuhkan waktu yang lama,” ujarnya.

Dengan adanya mesin pencacah sampah organik bantuan PLN ini, kata Titin, maka menjadi solusi terbaik. Segala jenis sampah organik bisa dicacah dan disaring sehingga proses pembuatan kompos bisa lebih cepat.

“Ke depan, kami berencana memproduksi pupuk kompos dalam jumlah besar dengan melibatkan warga sekitar, mengemasnya dan menjualnya” ucap Titin. (Red)