IDEANEWSID. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Purwanto mendorong penguatan literasi dasar melalui kebiasaan menulis tangan di sekolah.
Hal ini untuk menjaga kemampuan berpikir, konsentrasi, dan daya ingat siswa di tengah pesatnya penggunaan perangkat digital.
Purwanto menegaskan pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan harus berjalan seimbang dengan penguatan keterampilan dasar siswa.
“Transformasi digital dalam pendidikan memang tidak bisa dihindari, namun keterampilan dasar seperti membaca, menulis tangan, dan kemampuan berpikir reflektif tetap harus diperkuat,” katanya saat dikonfirmasi, Minggu (15/4/2026).
Menulis tangan, sambungnya, memiliki peran penting dalam melatih konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan mengolah gagasan siswa.
Purwanto juga menyatakan sekolah perlu tetap menyediakan ruang bagi kegiatan literasi yang melibatkan tulisan tangan.
“Dengan demikian, siswa tidak hanya mahir menggunakan teknologi tetapi juga memiliki kemampuan berpikir yang kuat dan terstruktur,” ujarnya.
Ketergantungan Berlebihan
Sementara itu, Akademisi Rhenald Kasali menilai ketergantungan berlebihan pada perangkat digital dapat menurunkan kemampuan dasar siswa seperti menulis dan mengingat informasi.
Ia menyebutkan, sejumlah negara mulai kembali menekankan kebiasaan menulis tangan dan penggunaan buku cetak dalam proses pembelajaran.
Rhenald Kasali juga menjelaskan sekolah dasar di Inggris mendorong siswa menulis tangan setiap hari sebagai sarana refleksi sekaligus melatih kemampuan berpikir.
“Di Inggris, sekarang anak-anak SD setiap hari diminta menulis tangan untuk menuangkan refleksi dan pandangan mereka,” ucapnya.
Dirinya pun sempat bertanya kepada para neuroscientist di sana, mengapa kebiasaan ini kembali ditekankan.
“Mereka menjelaskan bahwa temuan di bidang neurologi menunjukkan anak yang menulis dengan tangan memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik dibandingkan yang sepenuhnya bergantung pada perangkat digital,” katanya.
Rhenald Kasali menambahkan negara-negara Skandinavia mulai kembali menggunakan buku cetak dalam pembelajaran karena muncul kekhawatiran daya ingat generasi muda menurun akibat terlalu cepat beralih ke teknologi digital.
Ia menceritakan pengalaman saat meminta peserta pelatihan mengisi formulir evaluasi secara tertulis namun sebagian besar peserta justru meminta formulir digital.
“Saya bagikan formulir evaluasi dan meminta mereka menuliskannya. Ternyata, sebagian besar meminta versi digital. Ketika saya tanya alasannya, mereka mengatakan sudah tidak terbiasa menulis tangan,” ujarnya.
Ini, kata dia, menunjukkan kemampuan dasar tersebut mulai tergantikan oleh kebiasaan menggunakan gawai. (Red)






