Dari Beban Jadi Sumber Daya, Program Kang Pisman Ajak Warga Olah Sampah di Sumber dan Setop Bebani TPS

KANG PISMAN. Program unggulan Kang Pisman terus dikampanyekan sebagai langkah jitu pengelolaan sampah, terutama dalam mengubah pola pikir terhadap sampah dari beban menjadi sumber daya.

IDEANEWSID. Pengelolaan sampah menjadi hal yang kompleks, terutama di kota-kota besar. Pola pengelolaan yang tak tepat, seperti kumpul – angkut – buang, hanya akan mempercepat penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

Belum lagi dampaknya yang bisa menimbulkan bau dan membebani truk pengangkut serta Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kota.

Kepala Seksi (Kasi) Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Cijerah, Mochammad Iqbal Makatita, S.Kesos., mengatakan, hampir 70 persen sampah rumah tangga adalah sampah yang bisa diolah di rumah.

“Artinya, sampah sangat bisa diolah sejak di sumbernya dan bisa mengurangi beban TPS dan TPA. Apabila pengolahannya dilakukan dengan benar, maka sampah bukan lagi beban, melainkan sumber daya yang bisa dihabiskan di wilayah sendiri,” kata Iqbal saat dikonfirmasi, Selasa (8/9/2026).

Iqbal menegaskan, melalui gerakan dan program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaat) yang merupakan program unggulan Pemerintah Kota Bandung, ia mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir terkait sampah. Di antaranya, dengan memilah dan mengolah tiga jenis sampah.

Pertama, sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, sayur, daun, dan lainnya. Targetnya, 100 persen tidak ke TPS karena sampah organik adalah penyumbang bau dan lindi atau air sampah terbesar. Sampah organik ini bisa diolah di sumbernya, yakni di rumah.

“Di antaranya, melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Ini adalah cara paling cepat. Maggot sangat rakus memakan sisa makanan, nasi basi, dan buah busuk,” ujar Iqbal.

Baca juga:  Pembahasan LKPJ Wali Kota Bandung 2024, Pansus 6 Soroti Penanganan Sampah

Ia menjelaskan, dalam sehari, 1 kg maggot bisa menghabiskan 1 kg sampah organik. Bonusnya, maggot yang besar bisa jadi pakan gratis untuk ikan lele atau ayam di Buruan Sae yang merupakan program Urban Farming Pemkot Bandung.

Pemanfaatan sampah organik lainnya adalah membuat Eco Enzyme & MOL. Caranya dengan mengumpulkan kulit buah (jeruk, nanas, pepaya) dan sisa sayur. Fermentasikan dengan gula merah dan air di dalam botol/galon bekas. Dalam tiga bulan, akan diperoleh cairan ajaib untuk pupuk tanaman, pembersih lantai, hingga pengusir hama.

Selanjutnya adalah pengomposan (lubang kompos/bata terawang/drum). Khusus untuk sampah kebun (daun kering, ranting) dan sisa sayur yang tidak dimakan maggot. Masukkan ke lubang tanah atau wadah khusus, bolak-balik secara rutin, dan dalam 1-2 bulan akan didapat pupuk kompos yang subur untuk tanaman di pekarangan.

Cara lain pengelolaan sampah organik adalah dengan langsung memberikan ke ternak. Seperti, sisa nasi, sayur bening, atau ampas tahu yang masih bersih bisa langsung diberikan kepada ayam, bebek, atau kambing.

Kedua, sampah anorganik bernilai seperti plastik, kertas, logam, dan kaca. Targetnya, masuk Bank Sampah dan bisa menjadi cuan. Sampah ini tidak membusuk, tapi memiliki nilai ekonomis, jadi jangan dibuang ke TPS.

Baca juga:  Ratusan Ribu Wisatawan Liburan di Purwakarta

Pisahkan dan bersihkan. Cuci bersih botol plastik, kaleng, atau kemasan makanan. Keringkan dan remukkan untuk menghemat tempat.

Selanjutnya, kumpulkan sampah anorganik yang sudah bersih. Setorkan ke Bank Sampah Unit (BSU) di RW atau kumpulkan untuk dijual ke pemulung. Bonusnya, sampah berubah menjadi uang tabungan atau tambahan penghasilan ibu-ibu PKK.

Pengelolaan sampah anorganik lainnya adalah Upcycling (Daur Ulang Kreatif). Botol bekas bisa dijadikan Ecobrick (isi dengan sampah plastik lunak untuk jadi kursi/taman), pot tanaman, atau kerajinan tangan yang bernilai jual.

Ketiga, sampah residu seperti popok, pembalut, styrofoam, dan sampah terkontaminasi. Targetnya meminimalisir, baru buang ke TPS. Sampah residu adalah sampah yang benar-benar tidak bisa didaur ulang dan tidak bisa diolah secara mandiri.

“Kurangi penggunaan sumber sampah residu. Di antaranya dengan mulai beralih dari pembalut sekali pakai ke menstrual cup, kurangi penggunaan styrofoam untuk bungkus makanan, dan bawa tas belanja sendiri,” ucap Iqbal.

Bisa juga dengan membungkus dengan rapi sampah residu. Harus dibungkus rapat dengan plastik bekas atau koran sebelum dibuang, agar tidak mencemari lingkungan dan tidak mengganggu petugas kebersihan.

“Harus diingat, hanya sampah residu inilah yang boleh diangkut oleh Petugas Gaslah ke TPS. Jika kita berhasil memilah, volume sampah residu kita akan berkurang hingga 70 persen,” kata Iqbal.

Baca juga:  PSTI UPI Purwakarta Bekali Guru PAUD dan SMK Penerapan Microlearning

Senada disampaikan Kasi Ekbang Kelurahan Cigondewah Kidul, Imas Syaidah S.AP. Ia menyebutkan bahwa banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui program Kang Pisman dalam pengelolaan tiga jenis sampah tersebut.

“Manfaat yang bisa kita rasakan adalah lingkungan asri dan sehat. Tidak ada lagi bau busuk dan tumpukan lalat di depan rumah atau di TPS,” ujar Imas.

Selain itu, sambungnya, hemat biaya. Volume sampah yang dibuang ke TPS berkurang, sehingga potensi penghematan biaya retribusi sampah bisa dialokasikan untuk hal lain.

“Bisa juga mendapat cuan yakni dari penjualan sampah anorganik ke Bank Sampah dan pemanfaatan pupuk atau maggot untuk Buruan Sae. Lebih jauh lagi, kita membantu mengurangi beban TPA Sarimukti dan mendukung instruksi Walikota Bandung tentang pengelolaan sampah mandiri,” kata Imas.

Ia menegaskan, perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil di rumah sendiri. Sediakan tiga wadah berbeda di dapur (Organik, Anorganik, Residu) dan ajak seluruh anggota keluarga untuk membiasakan memilah.

“Mari kita buktikan bahwa Kota Bandung bisa menjadi kota  yang bersih, sehat, dan ekonomis. Ingat slogan kita, ‘Sampahku, Tanggung Jawabku! Olah di Sumber, TPS Lega, Lingkungan Asri’,” ujarnya. (Red)