IDEANEWSID. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah Jawa Barat dan Banten, Dr Lukman, S.T., M.Hum., mengatakan, tantangan menjadi seorang guru pada era disrupsi teknologi seperti sekarang ini sangat besar.
“Jika dulu guru lebih pintar dari muridnya, maka saat ini, murid dengan smartphone-nya boleh jadi jauh lebih pintar dari gurunya,” kata Lukman saat menghadiri Wisuda Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Purwakarta Angkatan IX di Hotel Harper Purwakarta, Rabu (5/11/2025).
Lukman menyebutkan, perkembangan artificial intelligence atau kecerdasan buatan sangat luar biasa. Para pelajar sudah akrab dengan yang namanya ChatGPT.
“Akan tetapi ada dua hal yang tidak bisa didapatkan dari ChatGPT, keduanya adalah karakter dan akhlak. Dan kedua hal ini bisa didapatkan dari sosok seorang guru yang bisa digugu dan ditiru,” ujarnya.
Karena itu pula, sambungnya, dari sekian banyak undangan upacara wisuda yang digelar di hari yang sama, ia lebih memilih memenuhi undangan wisuda STKIP Purwakarta.
“Padahal dari segi jumlah wisudawan, STKIP Purwakarta yang paling sedikit, hanya 101 wisudawan. Sementara yang lain jumlahnya ribuan. Begitu lah saya sangat menghargai dan memuliakan profesi guru. Terlebih, ayah saya pun seorang guru,” ucap Lukman.
Ia pun mengisahkan dedikasi ayahnya sebagai seorang guru berpenghasilan pas-pasan namun harus tetap menghidupi ketujuh anaknya.
“Ayah saya bekerja sebagai seorang guru dari pagi hingga siang. Kemudian lanjut berkeliling berjualan kok atau bola bulutangkis hingga menjelang waktu Isya. Semua dilakukan demi anak-anaknya. Alhamdulillah, anak-anak bapak berhasil, ada yang S2 maupun S3,” katanya.
Hal inilah yang selalu diingatnya, sehingga ia tak ragu untuk mendahulukan dan menghadiri upacara wisuda para guru dari STKIP Purwakarta.
“Di tangan kalian para guru untuk menjawab tantangan bagaimana menanamkan karakter dan akhlak, khususnya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Lukman juga membekali para wisudawan STKIP Purwakarta dengan ilmu PINTAR, yakni terdiri atas Profesional, Integritas, Netral, Transformatif, Adatif dan Realistis.
Perubahan Status Pendidikan
Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kabupaten Purwakarta Nina Herlina yang hadir mewakili Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan.
“Penyelenggaraan wisuda ini merupakan sebuah seremonial yang menandai perubahan status pendidikan para wisudawan karena telah menyelesaikan proses pendidikannya,” ucap Nina.
Seiring dengan perubahan status ini, lanjutnya, berubah pula tanggung jawab yang dipikul. Yakni memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar dikarenakan pengetahuan yang dimilikinya.
“Gelar akademik yang diperoleh merupakan tanggung jawab moral untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang berilmu pengetahuan, berkarakter, berakhlak mulia, berintegritas, kompeten di bidangnya serta mampu bersaing di era global,” katanya.
Ia pun berharap para lulusan STKIP Purwakarta dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Purwakarta.
“Juga memberikan kontribusi pada kemajuan daerah serta menjadi agen perubahan dan pemimpin masa depan yang mampu menghadapi tantangan untuk kemajuan masyarakat,” ujar Nina.
Tiga Lulusan Terbaik

Sementara itu, Ketua STKIP Purwakarta Dr. H. Agus Muharam, M.Pd., mengatakan, Wisudawan STKIP Purwakarta Angkatan IX berjumlah 101 orang dari tiga program studi (Prodi).
Rinciannya, Prodi Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) 66 orang, Prodi Sarjana Pendidikan Jasmani (Penjas) 19 orang dan Prodi Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) 16 orang.
Adapun untuk lulusan terbaik diraih Rita Solihat dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,9 dari Prodi PGSD, kemudian Galih Prasetyo dengan IPK 3,86 dari Prodi Penjas dan Wanda dengan IPK 3,86 dari Prodi PBI.
“Wisuda ini bukan sekadar seremoni tetapi tonggak sejarah dalam perjalanan
hidup para wisudawan. Setelah bertahun-tahun ditempa di bangku perkuliahan, melewati tugas, ujian, skripsi, dan juga perjuangan melawan rasa malas,” ucap Agus.
“Akhirnya kalian resmi menyandang gelar sarjana pendidikan, namun ingatlah, wisuda bukan akhir perjuangan
melainkan gerbang menuju pengabdian. Gelar S.Pd di belakang nama kalian bukan sekadar simbol tetapi amanah,” katanya.
“Semoga para wisudawan senantiasa mendapat rida Allah SWT dan mampu menjadi generasi pendidik yang profesional, kreatif serta membawa kemajuan bagi bangsa dan umat. Sejalan dengan slogan STKIP Purwakarta ilmu untuk mengabdi, berilmu untuk berbakti,” ujar Agus. (Red)






