Sebut Kiai Abun Guru Sekaligus Sahabat, Menag RI: Al-Muhajirin Diharapkan Jadi Mercusuar Spiritual

MERCUSUAR SPIRITUAL. Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., menyampaikan harapannya agar Pondok Pesantren Al-Muhajirin menjadi Mercusuar Spiritual, khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Purwakarta.

IDEANEWSID. Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., menyampaikan harapannya agar Pondok Pesantren Al-Muhajirin menjadi Mercusuar Spiritual, khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Purwakarta.

Harapan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar usai menandatangani prasasti pembangunan gedung dalam rangka Milad dan Haul ke-33 yang berlokasi di Ponpes Al-Muhajirin 3, Citapen, Sukatani, Purwakarta, Kamis (5/2/2026).

“Kehadiran saya di sini juga untuk bersilaturahmi dengan guru sekaligus sahabat lama saya, Prof. Dr. K.H. Abun Bunyamin, M.A. Beliau berhasil memimpin Al-Muhajirin dengan luar biasa. Pesantren ini menjadi kebanggaan bagi kita semua,” kata Nasaruddin Umar.

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin Umar juga menyampaikan tausiyah di hadapan ribuan santri Al-Muhajirin. Ia mengungkapkan rahasia di balik bacaan basmalah, sehingga setiap aktivitas yang diawali dengan basmalah dapat benar-benar mendapat berkah.

“Saat membaca basmalah, dengan penuh kesadaran, hadirkan Allah SWT sebagai pemilik nama, di dalam hati,” ujar Nasaruddin Umar.

Fondasi Pergerakan Bangsa

Sementara itu, Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., menyebutkan bahwa pondok pesantren adalah fondasi bagi pergerakan bangsa. Hal ini sudah dimulai sejak kemerdekaan Indonesia yang tidak lepas dari peran serta pesantren.

Baca juga:  Kanada dan Pemprov Jabar Kolaborasi Tingkatkan Nutrisi Remaja Putri di Jabar

“Saat ini pergerakan pesantren bukan hanya pada aspek keagamaan saja, tapi juga sudah memasuki era digitalisasi. Kemudian juga teknologi, media sosial, media mainstream, banyak dari kalangan pesantren yang memberikan warna positif,” ujar Teh Ifa, panggilan akrabnya.

Hal inilah yang menjadi amanah bagi Al-Muhajirin untuk betul-betul bisa membawa nilai-nilai positif, baik itu dalam berbagai aspek kontribusi kepada masyarakat maupun pemerintah untuk negara.

“Alhamdulillah, di umur 33 tahun ini, selain mengutamakan aspek keagamaan, Al-Muhajirin juga punya banyak program pendidikan kader ulama. Ada juga pembelajaran kitab kuning yang menjadi ikon utama kami hingga menerapkan teknologi seperti penggunaan program e-learning,” ucapnya.

Lebih lanjut Ifa mengungkapkan, saat ini Al-Muhajirin juga mengelola dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk memenuhi kebutuhan semua kampus Al-Muhajirin.

“Artinya, Al-Muhajirin bisa memaksimalkan peran sertanya di masyarakat dalam hal penguatan ekonomi dan sosial,” kata Teh Ifa.

Baca juga:  Ada Surabi Gapura Kang Dian pada Peringatan HUT Ke-62 Kostrad di Purwakarta

Perjalanan Panjang

Untuk diketahui, Haul dan Milad ke-33 Al-Muhajirin menandai perjalanan panjang pondok pesantren yang berdiri pada 7 Februari 1993 hingga 7 Februari 2026, bertepatan dengan 15 Syaban 1413–1447 Hijriah.

Perjalanan panjang ini, khususnya dalam mengabdikan diri di bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.

Rangkaian acara dimulai dengan penampilan kreasi seni para santri, dilanjutkan tawasul, pembacaan ayat suci Alquran dan salawat.

Turut dikumandangkan lagu Indonesia Raya, Hymne Al-Muhajirin, dan Syubbanul Wathon yang dibawakan oleh paduan suara STAI Al-Muhajirin. Suasana semakin semarak dengan penampilan hadrah oleh K.H. Rd. Muhammad Hariri Abdul Aziz, serta pengundian doorprize bagi para hadirin.

Peluncuran Dua Buku

Yang tak kalah istimewa adalah peluncuran dua buku karya Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, K.H. Rd. Marpu Muhyiddin Ilyas, M.A.

Kedua buku tersebut berjudul “Super Nahwu: Tiga Bulan Lancar Baca Arab Gundul” dan “Super Tashrif 2 (Tsulatsi Mazid, Rubai’, dan Ghair Salim) – Dzauq di Atas Rumus dengan Metode Drill dan Pola Bunyi yang Ramah Otak”.

Baca juga:  STIE Muttaqien Purwakarta Jaring Potensi Petenis Meja se-Purwasuka lewat E-Qien Competition

Keduanya disusun sebagai ikhtiar menghadirkan metode pembelajaran nahwu dan sharaf yang efektif, aplikatif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Buku Super Nahwu dirancang untuk membantu pembelajar bahasa Arab membaca kitab gundul secara lancar dalam waktu relatif singkat.

Adapun Super Tashrif 2 menekankan pendekatan rasa bahasa (dzauq) melalui latihan intensif dan pola bunyi, sehingga kaidah Sharaf tidak berhenti pada hafalan rumus semata.

Karya tersebut ditujukan bagi pimpinan pesantren dan kepala madrasah sebagai rujukan kurikulum akselerasi pembelajaran nahwu, para guru Bahasa Arab sebagai pendamping metode pengajaran yang lebih hidup.

Buku ini juga bisa dimanfaatkan para santri dan mahasiswa pemula yang ingin memahami Bahasa Arab secara sistematis, hingga masyarakat umum yang ingin mempelajari bahasa Alquran secara praktis di tengah kesibukan.

Peluncuran dua buku ini merupakan bagian dari komitmen Pondok Pesantren Al-Muhajirin dalam penguatan tradisi keilmuan pesantren, sekaligus kontribusi nyata dalam pengembangan metode pembelajaran bahasa Arab yang adaptif terhadap tantangan zaman. (Red)