Utamakan Kualitas dan Keilmuan Santri, Baznas Purwakarta Pakai Sistem Baru Seleksi Penerima Beasantri

BEASANTRI. Ketua Panitia Seleksi Beasantri Baznas Purwakarta Saparudin, saat memberikan instruksi tes tertulis kepada para peserta Beasantri.

IDEANEWSID. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Purwakarta menggunakan sistem yang baru dalam menyeleksi calon penerima beasiswa santri atau Beasantri pada tahun ini.

Ketua Panitia Seleksi Beasantri yang juga Wakil Ketua PKP Baznas Purwakarta Saparudin mengatakan, sistem seleksi penerima Beasantri tahun ini lebih mengutamakan kualitas.

Yakni, sambungnya, penguasaan keilmuan para peserta, khususnya ilmu Nahwu dan Sharaf. Dilaksanakan dua hari berturut-turut, hari pertama tes tertulis dan hari kedua tes pendalaman baca Kitab Kuning.

“Dasarnya adalah Alquran Surat Al Mujadalah Ayat 11. Di mana Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat,” kata Saparudin di sela kegiatan seleksi Beasantri di Gedung Dakwah, Cipaisan, Purwakarta, Sabtu (29/4/2023).

Oleh karenanya, kata Saparudin, seluruh penerima Beasantri ibaratnya dinolkan lagi. Dijelaskannya, program Beasantri ini maksimal bisa diikuti santri selama lima tahun.

Baca juga:  NR Raup Keuntungan Rp2,5 Miliar dari Investasi-Arisan Tipu-tipu

“Di mana setiap tahunnya dilakukan evaluasi. Sebelumnya, evaluasi bagi penerima Beasantri maupun seleksi bagi peserta baru dilakukan hanya secara tes lisan,” ujarnya.

Level Tentukan Beasantri

Adapun saat ini, baik santri yang sudah menjadi penerima Beasantri maupun yang baru seleksi harus mengikuti tes tertulis terlebih dahulu. Soal yang diberikan terkait Kitab Kuning dari level satu hingga lima.

Level ini, lanjutnya, yang kemudian menentukan besaran Beasantri yang diberikan. Semakin tinggi level yang bisa dilaluinya semakin besar nilai Beasantri yang berhak didapatkannya.

“Peserta yang baru ikut seleksi tak hanya harus mengerjakan soal level satu, tapi bila dia sanggup bisa mengerjakan soal ke level berikutnya. Bisa level dua, tiga, empat, bahkan level lima jika dirinya sanggup,” ucap Saparudin.

Baca juga:  Belum Ditanggung BPJS Kesehatan, Baznas Purwakarta Siap Bayarkan Program PKMK Pasien Stunting

Sebaliknya, kata dia, untuk penerima Beasantri yang dievaluasi tapi ternyata hanya mampu mengerjakan soal level di bawahnya, maka santri tersebut bisa turun level dan nilai Beasantrinya pun otomatis ikut turun.

“Bila lolos pada tes tertulis ini, sambungnya, santri bisa mengikuti tes selanjutnya, yakni tes lisan atau wawancara. Dari sini tim juri menentukan peserta yang lulus dan berada di level mana,” kata Saparudin.

Untuk tim juri atau tim penguji ada lima orang dari berbagai latar dan keilmuan. Kelimanya adalah Ustaz H. Deden Anwar Fauzi., M.Ag., yang merupakan Ketua DKM Baing Yusuf Purwakarta.

Kemudian, dari kalangan akademisi, yakni Ustaz Zainudin yang merupakan Dosen Agama di STT Wastukencana. Selanjutnya, Pimpinan Ponpes Al Irfan Purwakarta K.H. Midad Fathoni.

Adapun dua orang lagi merupakan penguji program tahfidz, yaitu Imam Masjid Baing Yusuf Jajang Saepul Malik (Al-Hafiz) dan Ustazdah Siti Kamilah (Al-Hafizah) dari Ponpes Al-Hikmah Cigedogan.

Baca juga:  Baznas Purwakarta Tetapkan Zakat Fitrah 1444 H, Segini Nilainya

Ditemui di lokasi yang sama, Ketua Baznas Purwakarta Rika Ristiawati mengatakan, dengan sistem yang sekarang, baik pendaftar baru maupun santri yang sudah menerima memiliki kesempatan yang sama untuk berada di level sesuai keilmuannya.

“Alhamdulillah, pendaftar program Beasantri tahun ini ada 599 santri, naik tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 395 pendaftar,” ujar Rika mengungkapkan.

Rika menyebutkan, keunggulan sistem seleksi yang sekarang di antaranya, dapat menjaring calon penerima Beasantri sesuai dengan tingkat keilmuannya. Semakin tinggi level yang diraihnya, semakin besar beasiswa yang diterima.

“Sistem ini juga bisa lebih memotivasi santri untuk benar-benar meningkatkan dan mengembangkan keilmuannya. Sehingga jelas, sistem ini lebih mengutamakan kualitas santri,” ucapnya. (Red)