IDEANEWSID. SD Labschool UPI Purwakarta menggelar Seminar Parenting Maulid Nabi Muhammad Saw 2023 dengan tema “Mendidik Anak dengan Cinta dan Keteladanan Rasulullah Saw”, Rabu (11/10/2023).
Seminar orang tua siswa yang juga dihadiri mahasiswa PGSD maupun calon guru ini, digelar di Bale Sawala Yudistira Pemkab Purwakarta.
Seminar parenting ini menghadirkan dua narasumber yang juga pakar di bidangnya. Keduanya adalah pasangan Dr. Manpan Drajat, M.Ag., dan Widianingsih, M.Ag.
Kepala SD Labschool UPI Purwakarta
Asep Nurhuda, M.Pd., mengatakan, program parenting di SD Labschool UPI terbagi menjadi tiga.
Pertama, kata Asep, Gebyar Parenting seperti sekarang ini yang digelar setahun sekali pada triwulan pertama. Ini berfungsi untuk evaluasi pembelajaran dan kolaborasi trisentra pendidikan meliputi sekolah, orang tua dan masyarakat.
“Parenting yang kedua digelar di tiap kelas dengan narasumber kepala sekolah dan wali kelas masing-masing. Dilaksanakan pada akhir semester pertama,” kata Asep.
Adapun parenting yang ketiga, sambungnya, adalah antara wali kelas dengan orang tua siswa maupun guru BK, baik di sekolah maupun home visit.
Disebutkannya, melalui ketiga upaya parenting ini diharapkan peran trisentra pendidikan ini bisa lebih maksimal lagi.
Kegiatan parenting kali ini, lanjutnya, diikuti lebih dari 200 orang tua siswa, kemudian sejumlah mahasiswa maupun calon orang tua siswa.
“Melalui kegiatan parenting ini pula diharapkan terciptanya kolaborasi antara sekolah, orang tua dan masyarakat sehingga terwujudnya pendidikan yang lebih baik lagi,” ujarnya.
Sekolah, kata Asep, bertugas meningkatkan kompetensi kepala sekolah, guru, maupun fasilitas pendidikan. Sementara orang tua bisa berperan memberikan masukan dan gagasannya.
Sel Otak
Sementara itu, dalam materinya, Manpan Drajat mengajak orang tua untuk selalu bersikap baik dan berlemah lembut kepada anak. Karena, ketika orang tua marah-marah kepada anak, maka ada banyak sel otak pada anaknya yang terputus.
Di sisi lain, lanjutnya, agar otak anak bisa terus berkembang dan cerdas, maka dibutuhkan sambungan sel otak yang rimbun atau banyak.
“Lalu, bagaimana caranya memperbanyak sambungan otak tersebut? Tak lain tak bukan dengan cara belajar, membuka wawasan dan memperbanyak pengalaman,” ucapnya.
Sementara itu, narasumber lainnya Widianingsih menyebutkan, harus dapat membedakan mana bercanda mana perundungan (bullying). Karena banyak kasus perundungan yang dianggap sebagai bercandaan.
“Bercanda itu kedua pihak senang. Sedangkan perundungan satu pihak ada yang senang sementara pihak lainnya dirugikan. Lalu, bagaimana ketika anak kita mengalami perundungan di sekolah. Apa disuruh balas atau diam atau seperti apa?” kata Widianingsih.
Pertama, sambungnya, jangan dibalas karena inilah sesungguhnya benih-benih permusuhan. Maka, yang harus di kedepankan adalah kedamaian.
Anak harus bicara kalau dirinya tak nyaman karena di-bully. Kemudian abaikan anak yang mem-bully itu. Kalau masih juga mengganggu, maka tinggalkan dan bicara kepada guru atau wali kelas.
“Mari menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan. Mempelajari hadits tentang mengasuh anak dan mengimplementasikannya. Pastikan juga saat menghadapi anak itu dalam kondisi tenang. Karena bila tidak tenang maka bisa terjadi hijack brain dan itu percuma,” ujarnya. (Red)






