IDEANEWSID. Tempat sampah di dapur besar kemungkinan dihuni botol plastik bekas minuman yang berbagi ruang dengan sisa nasi, kulit buah, dan bungkus mi instan.
Begitu semuanya tercampur, nilainya pun ikut turun. Botol yang sebenarnya bisa dijual berubah menjadi sampah basah yang berbau, lalu berakhir di Tepat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Gambaran serupa ditemukan di Kelurahan Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Jawa Barat.
Maka timbul kegelisahan yang dari kegelisahan tersebut lahir JAWARA RUNIK, singkatan dari Jaringan Aksi Warga Olah Runtah Anorganik. Runtah sendiri adalah diksi Bahasa Sunda untuk sampah.
Adalah Imas Syaidah, S.AP., Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan, yang merancang program JAWARA RUNIK sebagai aksi perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Pengawas Angkatan VI.
Idenya terdengar sederhana, warga memilah dari rumah, menyetor ke Bank Sampah RW, dan seluruh prosesnya tercatat rapi. Akan tetapi, di balik kesederhanaan itu ada rancangan yang layak dipelajari, termasuk oleh warga yang tinggal di wilayah lain.
Empat Masalah yang Membuat Sampah Terus Menumpuk
“Berdasarkan observasi lapangan dan wawancara dengan Pendamping Kawasan Bebas Sampah pada Agustus 2026, ada empat persoalan utama,” kata Imas saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (4/11/2026).
Pertama, pemilahan belum jadi kebiasaan. Sampah organik, anorganik, dan residu masih bercampur karena edukasi belum berlangsung rutin.
Kedua, pola lama masih berjalan. Sampah dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang ke TPS tanpa pemilahan di sumber, sehingga beban TPS terus bertambah.
Ketiga, nilai ekonomi belum tergarap. Plastik, kertas, dan logam yang laku dijual masih tercampur. Bank Sampah di tingkat RW pun belum merata.
Keempat, data tidak terkelola. Pencatatan masih manual dan tidak terdokumentasi, sehingga sulit menilai apakah suatu kegiatan benar-benar berhasil.
Yang menarik, sambungnya, rancangan ini tidak berhenti pada daftar masalah. Ia memetakan perspektif dua pihak. Dari sisi warga, ada pertanyaan, “memangnya kalau dipilah dapat untung apa?”
Sementara dari sisi lainnya, yaitu kader Bank Sampah, berkata, “kami mau mengelola Bank Sampah, tapi belum paham pembukuannya”.
Dua keluhan ini bermula dari akar yang sama, yakni, warga kekurangan informasi dan kemudahan, kader kekurangan pelatihan dan sarana. Karena itu solusinya harus menyentuh keduanya sekaligus.
Bagaimana JAWARA RUNIK Bekerja
Alur kerja JAWARA RUNIK membalik kebiasaan lama. Dulu, buang, lalu selesai. Sekarang, pilah dari rumah, setor ke Bank Sampah RW, tercatat dalam sistem data, dan nilai ekonominya kembali ke warga.
“Sampah anorganik terpilah selanjutnya dikelola lewat Bank Sampah Induk dan mitra UMKM daur ulang,” ujar Imas.
Perubahan perilaku, kata Imas, tidak digantungkan pada imbauan semata. Rancangan ini memadukan tiga penggerak.
Ketiganya adalah edukasi berkelanjutan, antara lain talkshow Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) dan pendampingan kader lingkungan.
Kemudian, peran RT/RW sebagai simpul lokal yang menggerakkan dan mengendalikan jalannya sistem di wilayahnya.
Selanjutnya, yang ketiga, insentif ekonomi dari Bank Sampah, sehingga warga merasakan manfaat langsung dari kebiasaan barunya.
Data yang Terlacak Jadi Pembeda Utama
Bank sampah bukan hal baru. Yang ditawarkan JAWARA RUNIK adalah keterhubungan antarpihaknya. GASLAH, GOBER (petugas pengangkut), Bank Sampah, dan RT/RW selama ini bekerja sendiri-sendiri.
Dalam rancangan ini mereka disatukan dalam satu rantai, yakni, pemilahan, pengangkutan terpilah, lalu pemanfaatan. Perekatnya adalah alat yang murah dan sudah akrab.
Di antaranya, Google Form untuk mencatat nama, RW, jenis, dan volume setoran. Google Sheets untuk merekap otomatis dan menghitung nilai ekonomi. Google Drive untuk menyimpan SOP, notulen, dan laporan. Pada tahap awal, sistem data ini tidak memerlukan biaya.
Dalam jangka menengah, data dari seluruh RW direncanakan terhubung ke pelaporan monitoring dan evaluasi kelurahan dan kecamatan, bahkan dikembangkan menjadi dashboard bersama Diskominfo.
Sebagai ilustrasi (bukan data riil), seorang warga membawa botol plastik dan kardus yang sudah dipilah ke Bank Sampah RW. Kader menimbang, lalu memasukkan nama, RW, jenis, dan beratnya lewat Google Form.
Google Sheets menghitung nilainya berdasarkan harga terbaru dari Bank Sampah Induk, dan jumlahnya tercatat sebagai tabungan warga. Di akhir bulan, kelurahan bisa melihat berapa banyak sampah yang berhasil dialihkan dari TPS, tanpa menghitung manual dari buku catatan.
Risiko yang Diakui Sejak Awal
Bagian yang patut diapresiasi adalah kejujuran rancangan ini tentang risikonya. Ada tiga yang dicatat, yaitu, partisipasi warga bisa turun jika insentif tidak konsisten, kader dan petugas bisa jenuh tanpa apresiasi dan penguatan, dan pola lama “angkut-buang” bisa kembali bila pengawasan longgar.
Jawabannya adalah kontrol berbasis data. Jika setoran suatu RW menurun, penurunan itu terlihat lebih dini dan bisa ditangani sebelum menjadi kebiasaan lama yang kembali.
Tips Praktis untuk Lingkungan
Imas menegaskan, tak perlu menunggu program resmi untuk mengambil pelajaran dari rancangan ini. Cukup dimulai dari satu wilayah.
Seperti RW percontohan di Cigondewah Kidul, satu RT atau RW yang siap lebih mudah dijadikan contoh daripada program besar yang tidak terkendali.
Bikin aturan pilah yang sederhana. Cukup tiga kategori, yakni, organik, anorganik, residu. SOP yang rumit justru ditinggalkan warga. Tunjukkan manfaatnya. Jawab pertanyaan “untungnya apa?” dengan catatan tabungan yang jelas.
Catat sejak hari pertama. Satu Google Form dan satu Google Sheets sudah cukup untuk melihat perkembangan. Latih pula kader, bukan hanya warga. Pencatatan dan pembukuan sederhana sering menjadi hambatan nyata.
Siapkan cadangan. Sinyal atau keterbatasan teknologi bisa diatasi dengan pencatatan manual sementara. Terakhir tapi tak kalah penting, jaga motivasi pelaksana. Apresiasi kecil dan pendampingan rutin mencegah kader kelelahan.
“JAWARA RUNIK memperlihatkan dengan jelas bahwa persoalan sampah tidak selalu membutuhkan mesin mahal atau anggaran besar,” kata Imas.
Yang dibutuhkan adalah rantai kerja yang jelas dari rumah warga hingga kelurahan, insentif yang dirasakan langsung, dan data yang membuat setiap langkah bisa diukur dan diperbaiki.
Satu catatan penting, dokumen sumber adalah rancangan, sehingga dampaknya belum dapat dinilai. Ukurannya akan terlihat pada indikator yang sudah disiapkan, yaitu jumlah RW yang aktif, jumlah warga yang menjadi nasabah Bank Sampah, dan volume sampah yang tidak lagi berakhir di TPS atau TPA.
“Terlepas dari hasil akhirnya, rancangan ini sudah menawarkan pelajaran yang bisa ditiru siapa pun. Perubahan perilaku bertahan lama ketika caranya mudah, manfaatnya nyata, dan dijaga bersama. (Rls/Red)






