IDEANEWSID. PT Bank Syariah Indonesia (BSI) menjalin kerja sama dengan berbagai pondok pesantren di wilayah Purwakarta, Subang dan Karawang (Purwasuka) yang ditegaskan dengan penandatanganan MoU terkait digitalisasi pondok pesantren.
Regional CEO BSI VI Bandung Fitria Ekayani menyebutkan, sudah ada 25 pesantren di Purwasuka yang telah menandatangani MoU tersebut.
“BSI terus mengembangkan Ekosistem Islami guna memaksimalkan potensi ekonomi syariah, salah satunya melalui program digitalisasi pondok pesantren ini,” kata Fitria kepada wartawan di Aula Janani Hotel Harper Purwakarta, Kamis (27/7/2023).
Dengan kesepakatan ini, sambungnya BSI telah menyiapkan sistem digitalisasi khusus pondok pesantren. Sehingga, pengelolaan keuangan di pondok pesantren tersebut bisa lebih tertib, sistematis dan transparan.
“Masih banyak pesantren yang pengelolaan keuangannya secara tradisional. Melalui digitalisasi pondok pesantren ini, harapannya pesantren-pesantren bisa berkembang lebih baik dan saling mendukung Ekosistem Islami yang bisa menyejahterakan umat,” ujarnya.
Disebutkan Fitria, digitalisasi pengelolaan keuangan di pondok pesantren di antaranya meliputi tabungan, biaya pendidikan siswa, gaji guru dan seluruh transaksi keuangan lainnya.
“Adapun terkait infrastruktur di pesantren, seperti ketersediaan PC untuk operasional maupun jaringan, BSI siap memberikan dukungan,” ucap Fitria.
Ke depan, BSI akan terus mengembangkan digitalisasi pondok pesantren ini karena potensinya masih sangat besar. “Terlebih program ini sejalan dengan program pusat dan merupakan amanat Presiden RI tentang digitalisasi keuangan,” katanya.
Apresiasi
Sementara itu, Plh Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengapresiasi langkah BSI dalam membangun Ekosistem Islami yang salah satunya melalui digitalisasi pondok pesantren.
“Program BSI ini seirama dengan program “Jabar Juara” khususnya dalam hal digitalisasi, kolaborasi dan inovasi. Ini pun sesuai dengan amanat Bapak Presiden RI Joko Widodo untuk mendigitalisasikan segala hal transaksi keuangan,” ujar Uu.
Sebagai bagian dari komunitas pondok pesantren, Uu pun menegaskan dukungannya terhadap digitalisasi pondok pesantren. Sistem administrasi di pondok pesantren itu, sambungnya, biasanya tradisional, karenanya digitalisasi ini akan sangat bermanfaat.
“Dengan modernisasi manajemen ini diharapkan pondok pesantren semakin aware terhadap situasi digital saat ini,” ucap Uu.
Namun, lanjutnya, Uu juga mengingatkan agar BSI turut membantu kesiapan infrastruktur di pondok pesantren.
“Karena suksesnya program ini ada tiga, yaitu suprastruktur berupa payung hukum yang kedua struktur keorganisasian dan ketiga infrastruktur,” kata Uu.
Senada, Bupati Purwakarta Ambu Anne Ratna Mustika menyampaikan, digitalisasi keuangan dan perbankan ini akan berhasil karena ada dua hal yang saling beriringan.
Yang pertama, adalah berkaitan dengan pemahaman literasi keuangan masyarakat. Artinya, masyarakat harus paham dulu sehingga bisa memanfaatkan digitalisasi keuangan ini. Yang kedua adalah infrastruktur yang hari ini kondisinya memang belum merata.
“Data yang kami miliki, di Purwakarta saja ada 349 pondok pesantren yang terdaftar. Artinya, ada guru dan santri dalam jumlah besar yang berpotensi menjadi bagian dari Ekosistem Islami,” ujar Ambu Anne. (Red)






