Benih Unggul dan Adopsi Teknologi Jadi Rahasia Sukses Petani

RAHASIA SUKSES. Benih unggul dan adopsi teknologi menjadi rahasia sukses petani. Ini seperti yang dibuktikan Nur Azitah Azman, petani cabai asal Banyuwangi, Jawa Timur yang sukses menggunakan benih Cap Panah Merah dari Ewindo.

IDEANEWSID. Ahmad Lani, petani bawang merah dari Cirebon, Jawa Barat, hapal betul bahwa benih unggul adalah salah satu pilar utama dalam ketahanan pangan dan pertanian yang sukses.

Mewarisi ilmu bertani dari orang tuanya, laki-laki yang pernah bercita-cita untuk kuliah di jurusan pertanian namun gagal karena keterbatasan finansial keluarganya ini, kini justru berhasil membuat lahan yang dia kelola menjadi sangat produktif.

Sebagai contoh, Lani dapat memanen bawang merah hingga 18 ton per hektare. Hasil panen tersebut di atas rata-rata produktivitas bawang merah nasional yang berkisar 10 ton per hektare.

Tidak hanya memanfaatkan benih unggul berkualitas, adopsi teknologi dan pola pupuk yang ramah lingkungan juga menjadi rahasia sukses Ahmad Lani.

“Menurut saya, petani itu kuncinya ada di benih unggul dan teknologi. Kalau pakai benih unggul, hasilnya juga meningkat secara signifikan,” kata Ahmad Lani kepada wartawan, Senin (12/5/2025).

Ahmad Lani yang telah memanfaatkan teknik menanam bawang merah dengan biji atau True Shallot Seed (TSS) ini juga menegaskan jika hasilnya pun jauh lebih tinggi dibanding menggunakan benih biasa.

Baca juga:  Nasib Shiba Inu 2022, Mampu kah $0,01?

Beberapa tahun ke belakang, petani di Indonesia memang telah dikenalkan dengan teknologi penanaman bawang merah melalui biji atau TSS. Adopsi teknologi ini menjadi salah satu pendorong peningkatan produktivitas bawang merah nasional.

Dengan benih unggul bawang merah seperti Sanren, Lokananta, dan Merdeka F1 potensi produksi dapat didongkrak hingga mencapai 18 ton per ha.

Selain meningkatkan produktivitas, benih unggul juga sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan, kemampuan benih unggul untuk menghadapi kondisi lingkungan yang berubah dan serangan hama serta penyakit menjadi sangat berharga.

“Petani juga harus terus berinovasi. Dan bertani itu membanggakan, karena kita dapat menjadi sumber pangan banyak orang,” ujar Ahmad Lani.

Pentingnya Adopsi dan Perkembangan Teknologi

Hal yang sama disampaikan oleh Nur Azitah Azman, petani cabai asal Banyuwangi, Jawa Timur.

Menurut Maman, panggilan akrabnya, petani sangat penting untuk mengetahui dan mengadopsi perkembangan teknologi pertanian terbaru.

Baca juga:  HUT Ke-35, Ewindo Tegaskan Jadi Sahabat Petani Paling Baik dan Tampilkan 27 Varietas Unggul  

Maman yang telah menggeluti dunia pertanian sejak usia 19 tahun itu membuktikan dengan adopsi teknologi dia mampu membesarkan usahanya dan memperluas area tanam yang semula hanya 5.000 m² kini menjadi 50.000 m².

Lebih lanjut Maman menyatakan bahwa kunci sukses petani lainnya adalah kemampuan membaca pasar dan adanya bimbingan dari pemerintah dan pihak swasta, terutama dalam mengadopsi teknologi yang tepat.

“Sekarang ini, petani harus melek teknologi. Dulu saya juga tidak langsung mengerti, tapi lama-lama belajar, apalagi sering dibimbing sama tim dari Cap Panah Merah,” ucap Maman.

Dari situ dirinya jadi tahu cara tanam yang lebih efisien, hasilnya juga semakin bagus.

“Suatu kali bahkan saya pernah mendapatkan keuntungan hingga Rp2 miliar bertanam cabai di lahan 1,5 hektare,” ucapnya.

Cap Panah Merah adalah sebutan petani untuk perusahaan benih sayuran unggul yang berpusat di Purwakarta, Jawa Barat yakni PT East West Seed Indonesia (Ewindo).

Baca juga:  PLN Jawa Barat Salurkan Bantuan bagi Korban Banjir di Berbagai Wilayah

Beroperasi di Indonesia selama 35 tahun, perusahaan ini telah menghasilkan lebih dari 400 varietas unggul sayuran mulai dari bayam, kangkung, cabai, tomat, timun, terong, bawang merah, kacang panjang, labu hingga semangka dan melon.

Keberadaan benih unggul berkualitas yang mudah diakses oleh petani ini, membuat petani Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing dengan petani di negara lain.

Pasalnya, kualitas benih unggul tersebut telah mendapatkan sertifikasi dari International Seed Testing Association (ISTA), organisasi independen yang berfokus pada pengembangan dan penerapan standar internasional untuk pengujian benih.

ISTA didirikan pada tahun 1924 dan bertujuan untuk memastikan kualitas dan keandalan benih dalam perdagangan internasional.

“Kalau mau sukses bertani, kita harus kerja sama. Selama saya jadi petani, dukungan pemerintah, lembaga swasta, serta komunitas petani lainnya sangat membantu saya,” katanya.

“Dengan pendidikan dan pelatihan dari pemerintah dan pihak swasta, saya jadi lebih paham ilmu pertanian yang baik dan benar,” ujar Maman. (Red)