Trisentra Pendidikan: Tujuan dan Proses

Oleh:

Dr. Srie Muldrianto, M.Pd.*

KURIKULUM Merdeka menekankan pembelajaran berbasis motivasi internal. Guru dan stakeholder sekolah dituntut untuk menerapkan tiga teori dasar dalam pendidikan.

Ketiga teori tersebut adalah disiplin positif, pembelajaran sosial emosional, dan growth mindset.

Pertanyaannya adalah apakah ketiga cara ini harus diterapkan kepada seluruh siswa tanpa kecuali? Padahal kita tahu bahwa tugas dan tanggungjawab utama pendidikan adalah keluarga.

Ketika anak sudah sedemikian rupa terbentuk karakternya dan karakter tersebut sudah sangat sulit diubah. Apakah boleh guru dan sekolah melibatkan aparat penegak hukum atau apakah guru boleh menerapkan model disiplin konvensional ?

Olehkarena itu, sejatinya sekolah dan guru diberi kewenangan untuk mengidentifikasi siswa agar siswa yang sudah terbentuk karakter negatifnya dilakukan pembinaan khusus agar tidak menular pada siswa lain.

Keterlibatan polisi dan bahkan militer dalam kasus tertentu menurut hemat saya masih penting. Begitupun penerapan model disiplin motivasi yg berbasis kekuatan eksternal juga masih dibutuhkan.

Kuncinya terletak pada identifikasi dan analisa guru atas kebutuhan siswa yang presisi. Pembiaran terhadap kasus minor seperti ini dapat berdampak mayor.

Baca juga:  Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Kebenaran, Kebaikan dan Keindahan

Sebagaimana virus, perilaku dan kebiasaan buruk siswa yang sudah berkarakter buruk dapat dengan mudah menyerang siswa dan siswi lain yg belum terjangkit virus buruk.

Tentu mengenal dan memahami disiplin positif, pembelajaran sosial emosional, dan growth mindset itu bagus dan ideal, tetapi implementasi di lapangan yang rumit dan berjalin kelindan dan fakta yg komplek perlu kebijakan yang khusus.

Apalagi ketiga teori dan pendekatan tersebut telah dijalankan dan diuji hanya di negara negara yang tingkat pendidikan dan ekonominya cukup baik.

Oleh karena itu sekolah, guru dan Depdikdas sejatinya mulai memperhatikan konsep trisentranya Ki Hajar Dewantara.

Bagaimana ketiga stake holder pendidikan dapat harmoni dan seirama dalam menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak.

Jangan sampai ada seorang guru dipolisikan atau ditindak oleh birokrasi padahal sedang melakukan tugas profesinya.

Pendidikan adalah proses memberikan nilai pada anak agar anak menjadi anak dewasa. Kedewasaan seorang anak dapat diukur pada tingkat tanggungjawab terhadap dirinya, lingkungannya, dan tanggungjawab terhadap Tuhannya.

Tanggungjawab hanya dapat diemban oleh orang merdeka, tanpa kemerdekaan seseorang tidak dapat diminta pertanggungjawaban.

Baca juga:  Pendidikan: Politisi dan Profesional

Seorang anak kecil yang belum akil baligh tidak bisa dipenjara atas kesalahan atau kejahatannya karena pikirannya masih belum dewasa (merdeka).

Seorang yang gila atau lupa ingatanpun demikian, Ia tidak dapat diminta pertanggungjawaban karena pikirannya belum merdeka. Begitu pun seorang yang dipaksa dan diancam atas sebuah tindakan tentu tidak dapat sepenuhnya bertanggungjawab atas perbuatannya.

Menjadi manusia merdeka (otentik) adalah sangat penting. Manusia otentik adalah manusia yang memiliki kesadaran bertindak sesuai kebutuhan dan bukan karena keinginan. Sementara kebanyakan kita bertindak di luar tindakan sadar dan atas dasar dorongan ekstenal.

Kita ingin makan enak, makan di tempat yang indah, berpakaian mewah, dan berkendaraan mewah hanya semata karena ingin dilihat, dihargai orang lain. Tentu ini bukan merupakan kebutuhan kita?

Kebutuhan adalah datang dari dalam diri kita dan satu sama lain berbeda dan oleh karena itu semua kita saling membutuhkan, bukan mereka memaksa kita untuk butuh. Inilah permasalahan penting dalam dunia pendidikan.

Baca juga:  Pj Bupati Purwakarta Lepas 287 Mahasiswa STIE Wikara Peserta KPPM, Ingatkan Soal Pembentukan Karakter

Kita berkompetisi dan menuju kepada sesuatu yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Dengan kata lain kita melakukan sesuatu atas dorongan keinginan (hawa nafsu) karena ingin seperti orang lain, ingin mengikuti standar yang orang lain tetapkan.

Akhirnya kita tidak bisa menikmati hidup kita, kita tidak dapat mensyukuri hidup kita karena kita belum sesuai dengan yang orang lain tetapkan.

Kesimpulan dan Saran

Pendidikan sejatinya bertujuan menjadikan manusia merdeka (otentik), dan caranya berbeda-beda, pada umumnya ketiga pendekatan seperti displin positif, pembelajaran sosial emosional, dan growth mindset dapat diterapkan sesuai kebutuhan siswa.

Tetapi ada beberapa kasus yang memerlukan pendekatan lain sesuai kebutuhan siswa.

Dalam hal ini guru dan sekolah sejatinya melakukan inovasi agar hak didik anak tidak hilang terutama bagi anak berkebutuhan khusus yang memiliki karakter khas buruk karena faktor keluarga dan lingkungan.

Oleh karena itu trisentra pendidikan harus menjadi perhatian kita.

Tapi apakah UU profesi guru telah menjamin ini?

*) Aktivis Forum Komunikasi Polisi dan Masyarakat Cendekia Republik Indonesia (FKPMC RI)