DI sebuah sudut permukiman di Jalan Terusan Ciliwung, Bandung, berdiri sebuah coffee shop yang terasa akrab sekaligus menenangkan. Namanya Neduh Kopi, tempat ngopi yang memanfaatkan halaman rumah rindang sebagai ruang pertemuan, tempat bercerita, hingga ruang kerja santai. Ketika sore tiba, suasananya terasa hidup: tawa anak muda, aroma kopi, dan cangkir yang saling beradu, menjadikan spot ini seolah oasis kecil dari keramaian kota.
Dari Rumah Keluarga ke Coffee Shop Penuh Nuansa Alam
Pemiliknya, Ridzky Ahdhan (36), tak berniat membuka kafe besar di awal. Ia hanya melihat lingkungan rumahnya yang masih asri di tengah deretan bangunan permukiman yang semakin padat. Sebuah pohon besar di halaman menjadi alasan lahirnya nama “Neduh”.
“Di sekitar sini rumah-rumah sudah tertutup semen. Pohon besar cuma ada di halaman rumah saya. Jadi namanya Neduh, karena memang tempatnya bisa meneduhkan,” kata Ridzky saat dijumpai di coffee shop miliknya, Selasa (9/12/2025).
Sejak berdiri pada 2019, konsep utamanya sederhana: tempat nongkrong di rumah dengan suasana teduh. Anak muda bisa duduk santai di halaman, bekerja dengan laptop, atau sekadar melepas penat.
Pandemi Memukul, Strategi Jemput Bola Menyelamatkan
Tahun 2020 menjadi ujian bagi banyak pelaku usaha, termasuk Neduh Kopi. Seminggu setelah grand opening, aturan PPKM membuat kedainya harus menghentikan operasional.
“Baru seminggu buka, langsung disuruh tutup,” kenangnya.
Alih-alih menyerah, Ridzky memilih strategi kreatif: ia menyasar pelanggan yang pernah mengunjungi kafe, menawarkan layanan pesan antar dengan metode jemput bola. Ia menggerakkan tim kecil untuk distribusi minuman ke rumah-rumah.
“Kita tutup dulu, tapi konsumen tetap kita layani dari rumah. Kita kirim langsung,” tuturnya.
Metode ini berlangsung hampir satu tahun hingga kondisi pandemi mereda pada 2021.
Bertransformasi Setelah Pandemi
Saat kedai kembali buka, Ridzky menata ulang konsepnya agar lebih nyaman: halaman dibersihkan, area outdoor diperluas, serta fasilitas dibuat lebih proper.
“Kalau dulu kayak kaki lima, pakai kursi bakso, seadanya. Sekarang sudah lebih proper,” ujarnya sambil tersenyum.
Neduh Kopi pun menjadi ruang yang bukan hanya bagus untuk nongkrong, tetapi juga untuk bekerja, rapat kecil, hingga komunitas kreatif.
Latar Belakang Kreatif Sang Pemilik
Ridzky bukan sosok baru di dunia usaha. Sebelum terjun ke bisnis kopi, ia pernah menjalankan barbershop pada 2012 dan bisnis kuliner pada 2015. Latar belakangnya sebagai desainer grafis membuatnya terbiasa menggarap branding dan visual.
Pengalaman itu menjadi modal besar ketika membuka Neduh Kopi secara serius pada 2019. Ia juga menggandeng partner berlatar barista untuk memperkuat riset menu.
“Menu sudah di-handle partner saya. Jadi R&D menu sudah qualified,” jelasnya.
Menu Unggulan: Kojo, Perpaduan Kopi dan Green Tea

Salah satu menu yang paling populer adalah Kojo, kependekan dari “kopi hejo”, campuran kopi dan green tea yang sekaligus unik dan menyegarkan.
“Dalam bahasa Sunda, Kojo itu andalan. Tapi secara literal kami memakainya untuk kopi hejo, campuran kopi dan green tea,” kata Ridzky.
Ia kini tengah menyiapkan inovasi terbaru: kopi kemasan kaleng ready to go, yang diharapkan bisa memperluas pasar tanpa bergantung pada kunjungan langsung ke kedai.
Digital Membantu Pertumbuhan, Indosat Menjadi Penyokong Komunikasi Internal
Perkembangan Neduh Kopi juga tidak lepas dari konektivitas digital. Sejak lama Ridzky menggunakan provider Indosat, mulai dari Mentari dan M3 hingga kini Ooredoo.
“Nomor yang dipublish untuk promosi memang nomor saya yang M3,” ujarnya.
Hal menarik terjadi tanpa perencanaan: baik partner maupun karyawan menggunakan provider yang sama. Efeknya, koordinasi internal menjadi lebih lancar dan efisien meski tanpa kuota internet.
“Kalau telepon koordinasi, walaupun gak pakai kuota atau bukan WhatsApp calling, tetap gratis. Tidak mengurangi pulsa,” katanya. (Hlm)






