Oleh:
Srie Muldrianto*
PEMERINTAH melalui Kementerian Agama sedang gencar-gencarnya kampanye moderasi beragama. Akan tetapi lupa bahwa sikap moderat itu pun penting dilakukan dalam berbagai hal.
Di antaranya dalam urusan politik terutama politik elektoral seperti pemilihan Capres dan Cawapres dan Pilkada.
Tak sedikit Pilpres dan Pilkada telah membuat anak bangsa bertengkar, saling hina, saling ejek, bahkan berkelahi. Sehingga, hancurnya rasa persaudaraan dan kebersamaan, seperti pada kasus kampret dan kadrun.
Sebagian orang begitu fanatik membela calonnya seolah yang membela selain calonnya tidak benar, bodoh, tidak mengikuti ajaran agama, dan lain sebagainya.
Tampaknya suasana seperti ini memang sengaja diciptakan dengan tujuan agar para pemilih tidak mudah dipengaruhi untuk pindah ke lain hati.
Tapi coba kita tengok sejarah ke belakang, misalnya bagaimana ketika Joko Widodo berhadapan dengan Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan menjadi tim sukses Jokowi?
Begitu pun Mahfud MD ketika menjadi Tim suksesnya Prabowo. Dan Anies pun pernah didukung juga mendukung Prabowo.
Sebagian orang mendukung Anies menganggap Anies itu santun, pinter, dan jujur. Begitupun mereka yang mendukung No. 2. Prabowo dianggap berani, tegas, dan refresentasi Jokowi dan lain sebagainya.
Bagi para pendukung No. 3. juga begitu, Ganjar dianggap sukses membawa Jawa Tengah pada kemajuan dan wakilnya dianggap orang yang bersih dan lain sebagainya.
Ada juga karena alasan siapa di balik no.1, 2, dan 3. Sebagian menduga bahwa nomor 1 lebih didukung USA dan yang lainnya Cina. Sehingga, isu tenaga kerja asing (TKA) China dan utang ke Cina jadi berita yang ampuh untuk menyerang calon lain.
Para pendukung setiap calon hanya menilai secara parsial atau hanya mendukung sesuai dengan keyakinan, pengalaman, rasa suka, dan pengetahuan parsial tentang Capres dan Cawapresnya.
Kita harus menyadari dan saling memahami bahwa setiap orang hidup dan tinggal dalam ruang dan waktu tertentu dan terbatas.
Mungkin saja yang biasa hidup dan tinggal di lingkungan pendukung atau yang anti, pikiran dan perasaan kita terbawa oleh lingkungan tersebut.
Cak Nun pernah menulis sebuah esai “Demokrasi dan Sikap Realistik.” Demokrasi walaupun cacat secara epistemologis tapi diterima secara sosiologis (Husen Herianto: 2024).
Realitas politik yang terjadi di Indonesia dapat berbeda dengan demokrasi yang seharusnya dalam Pancasila.
Perbedaan tersebut menuntut kita untuk terus memperbaiki, tapi perbaikan juga tidak hadir di ruang kosong ia berjalin kelindan dengan berbagai kepentingan.
Oleh karena itu sikap realistik dan moderat dalam politik elektoral menjadi keharusan.
Apa untungnya bagi kita Gontok-gontokan saling mencaci, fitnah, membuat marah satu sama lain? Toh dari dulu Presiden kita ya begitu-begitu saja.
Kemajuan kita bukan terletak ditangan Presiden dan wakilnya. Tapi di tangan kita, jangan sampai mereka akur, kita masih saling membenci dan saling menghujat!
Dukunglah Capres dan Cagub, juga Cabup secara moderat toh semua calon yang kita dukung ada kelemahan dan ada kelebihan.
Kita hanya melihat di satu sisi dan melupakan sisi lain. Ayo waras dalam berbangsa dan bernegara.
Seperti kata Socrates “The easiest and noblest way is not to be crushing others, but to be improving yourselves.”
*)Dosen dan Aktivis Cinta Tanah Air






