KDM: Politik dan Spiritualitas

Oleh:

Srie Muldrianto*

KALAU saya ajukan pertanyaan kepada khalayak, siapa tokoh terpopuler sekarang ini? Saya menduga Kang Dedi Mulyadi mungkin salah satu alternatif jawaban.

Coba saja di-googling dan dilihat di medsos seperti Tik-Tok, YouTube, Facebook, dan lain-lain pasti yang sering muncul adalah KDM.

Pertanyaannya mengapa tokoh ini begitu viral mengalahkan tokoh-tokoh lain? Saya berusaha menganalisa apa yang membedakan KDM dengan yang lain?

Jujur saya senang melihat fenomena yang sudah lama KDM lakukan baik ketika aktif di HMI, jadi anggota dewan, dan jadi eksekutif baik ketika jadi wakil bupati, jadi bupati, kemudian menjadi calon wakil gubernur, dan jadi legislatif lagi, di tingkat nasional yaitu anggota DPR RI.

Karir politik KDM cukup gemilang dan hampir ngak pernah kalah. Dia tampil sebagai pemenang dalam berbagai arena pertempuran politik yang ganas dan kejam. Apa yang dia lakukan?

Menurut hemat saya kelebihan utama KDM adalah pekerja keras, kreatif, tanpa pantang mundur, dan kepercayaan yang tinggi terhadap dirinya. Yang lebih spesifik lagi adalah dia memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh rata-rata politisi yang lain.

Pengetahuan tertinggi dan terhebat adalah pengetahuan yang ia dapatkan melalui pengalaman hidupnya sejak kecil hingga dewasa dan ia refleksikan kemudian di eksplorasi secara maksimal. Dengan kata lain ia mengeksplorasi kecerdasan spiritual yang ia miliki dan ia terapkan dalam berpolitik.

Pengetahuan jika kita bagi pada empat bagian yaitu pengetahuan yang didapat lewat panca indera, pengetahuan yang didapat lewat imajinasi, pengetahuan yang didapat lewat huduri (estimatif) seperti cinta, sedih, derita, senang dan lainnya, serta pengetahuan yang didapat lewat akal yaitu melalui argumentasi dan kesimpulan.

Baca juga:  KPU Purwakarta Rilis Hasil Penerimaan Laporan Awal Dana Kampanye Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2024

KDM cukup cerdas dalam mengelola pengetahuan imajinasi dan huduri (estimatif faculty) dalam berpolitik. Tidak hanya tahu tetapi pengetahuan yang ia dapatkan ia dapat artikulasikan pada tataran yang lebih praktis dan operasional.

Dengan kata lain ia hadir, merasakan suasana batin kebanyakan rakyat Indonesia. Bahkan ia berupaya mencari berbagai solusi atas masalah kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia ditambah dengan publikasi yang gencar.

Pengetahuan ini tidak dimiliki oleh rata-rata politisi yang ada di Indonesia. Rata-rata politisi terjebak dengan dunia materialis yang menganut politik Barat yang pragmatis dan sesaat. KDM melampaui itu.

Tentu hal ini terjadi tidak secara tiba-tiba ia adalah seorang pembelajar dan orang yang tahu diri. Orang yang sering merefleksi diri dan membangun kesadaran dari waktu ke waktu tentang target dan tujuan politiknya.

Coba kita perhatikan bagaimana ia berpolitik ketika menjadi kader HMI ia senang dalam berdebat berdiskusi terkait filsafat, agama, dan budaya kemudian spiritualitas.

Ia seorang yang rasional dan spiritualis. Ketika menjadi anggota DPRD Purwakarta, hal ini saya dapatkan dari berbagai sumber dari sumber yang terpercaya menyebutkan bahwa KDM adalah orang yang pekerja keras, pembelajar, dan selalu ada saja kreatifitasnya.

Hampir jarang ada di rumah dan selalu rapat serta membangun jaringan. Ketika Ia jadi wakil bupati Ia berseteru dengan Bupati dan ia mendapat dukungan yang kuat dari teman-temannya di anggota dewan.

Ketika ia berbicara budaya ia tidak hanya bicara fenomena (yang tampak) tapi juga noumena (makna dan tak tampak). Inilah titik awal ia bersentuhan dengan spiritualitas yang lintas keyakinan.

Ia tidak terjebak pada agama ritual tapi lebih dalam yaitu spiritual. Apa buktinya bahwa dia lekat dengan dunia spiritualitas? Kita masih ingat bahwa Purwakarta pernah dicanangkan sebagai kota welas asih (Compassionate City).

Baca juga:  DPRD - Pemkot Bandung Tetapkan 3 Perda Baru, Komitmen Perkuat Tata Kelola Kota Yang Inklusif

Perlu diketahui bahwa di Indonesia ada dua kabupaten yang memiliki prestasi sebagai kota welas asih yaitu Purwakarta dan Banyu Wangi. Dari sinilah ia mulai bergerak dan tumbuh dengan semangat baru membangun Purwakarta dan berpolitik secara humanis.

KDM menata Purwakarta mulai dari kebersihan kota, menata dan membangun jalan dan jembatan, kantor-kantor, perizinan yang terintegrasi, pengadaan tempat wisata, pemberian fasilitas dan bantuan santunan kematian, orang sakit, bantuan untuk RT, RW dan lain-lain.

Sehingga kota terasa hidup dan penuh warna kemudian rakyat merasakan perubahan yang terjadi. Jadi ketika dia terpilih sebagai Bupati yang mendapat predikat sebagai Compassionate City dia dapat mengimplemntasikannya dengan baik di tataran operasional.

Purwakarta sebagai kota welas asih didapat dengan jerih upaya dia yang kuat dan sungguh-sungguh melalui keterlibatan dia secara langsung dengan masyarakat lemah, miskin, dan terbelakang.

Dulu kalau masyarakat kecil mengundang dia, dia berusaha untuk datang. Saya teringat ketika orang tua saya yang mantan TNI diundang ke pendopo kemudian dia mengantarkannya ke rumah.

Dia mengetahui bagaimana dia membangun relasi dengan masyarakat dan berbicara dengan bahasa rakyat dan kemudian membantu memecahkan masalah rakyat, contoh lain ketika dia kesulitan gas ia tampil membuka layanan komunikasi dan ketika di WA direspon dengan cepat. Bahkan ketika idul fitri saya pernah dapat ucapan selamat dari beliau.

Ketika lihat beberapa chanel YouTube-nya dia hadir dan datang kepada masyarakat miskin, masyarakat yang memiliki masalah kehidupan misalnya terkait kesulitan ekonomi, pekerjaaan, kenakalan remaja, hubungan anak dan orang tua, hutang, dengan lain kata ia sosok yang hadir dan dapat memberi solusi bagi kehidupan masyarakat kecil.

Baca juga:  Pemprov Jawa Barat Mesti Optimalkan Anggaran Pemulihan Ekonomi

Terakhir ketika isu perampasan kendaraan bermotor bagi yang menunggak dua kali, viral kabar bahwa dia memohon ke Presiden dan KAPOLRI agar tidak dilakukan dan lainnya.

KDM memberikan kritik kepada anggota dewan ketika main catur, memarahi birokrat, mengkritik ASN, dan bahkan pernah berkonfrontasi dengan polisi ketika kasus Vina, terakhir dia menolak dan memberikan beberapa kendaraan dinas Gubernur dll.

Kritik yang dilakukan KDM telah mewakili suara hati masyarakat. Rasa pedulinya kepada anggota TNI cukup tinggi misalnya melibatkan TNI dalam pembangunan kota di Purwakarta dan sekarang di Jawa-Barat, baik dalam penegakan disiplin maupun pembangunan fisik.

Sehingga diharapkan dengan keterlibatan TNI ada peningkatan kesejahteraan dan dapat meminimalisir kecemburuan sosial antara Polisi dan TNI. Menurut hemat saya ini sikap seorang negarawan yang peduli pada permasalahan kehidupan yang sesungguhnya.

Selain Purwakarta sebagai kota welas asih, dia juga mengusung jargon Sahate dalam kampanye ketika di PILKADA Purwakarta.

Kepedulian pada alam yang terintegrasi dan sikap humanisnya juga menunjukkan bahwa dia berpolitik menggunakan pendekatan budaya yang berbasis spiritualitas yang universal.

Pengetahuan Huduri/estimatif faculty yang tinggi KDM-lah yang melahirkan kesadaran welas asih (spiritualitas) ditandai kepedulian yang tinggi terhadap rakyat, alam, dan budaya Bangsa Indonesia.

Pengalaman dan sensifitas inilah yang melahirkan KDM menjadi seniman politik yang tangguh. Berpolitik melalui intuisi inilah yang sulit ditiru. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan politisi yang hedon dan instan. (*)

*) Aktivis Bela Negara Purwakarta