IDEANEWSID. Bela Purwakarta kembali menjalankan misi kesejarahan Ekspedisi Purwacarita IV dengan format Touring Religi Bersejarah ke Makam Mama Sempur Plered dan Kolaborasi Berbagi Takjil, beberapa waktu lalu.
Rangkaian kegiatannya dimulai dari pelataran Masjid Agung Baing Yusuf sebagai titik keberangkatan yang merupakan simbolisasi napak tilas.
Dahulu, Mama Sempur diriwayatkan berguru ke Syekh Baing Yusuf, tokoh pendiri Masjid Agung Purwakarta di masa awal perintisan Kota Purwakarta yang kini bernama Masjid Agung Baing Yusuf.
Para peserta Touring Religi dilepas oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia Purwakarta K.H. John Dien didampingi Ketua DKM Masjid Agung Baing Yusuf H. Deden Anwar Fauzi.
Turut hadir mewakili Pemerintah Kabupaten, Sekda Purwakarta Norman Nugraha yang disertai Kabag Prokompim Setda Purwakarta Heri Anwar.
Setibanya di Plered, kegiatan dilanjutkan dengan berziarah dan bertawasul di makam Mama Sempur yang dipimpin keturunan ketiga dari Mama Sempur, yaitu Tubagus Zein Al-Bakri.
Berikutnya dilaksanakan sesi Ngobrol Riwayat Sejarah tentang Mama Sempur. Tubagus Zein, sebagai narasumber menjelaskan, Mama Sempur yang memiliki nama asli K.H. Tubagus Ahmad Bakri, merupakan tokoh yang selama hidupnya mengabdikan diri untuk syiar Islam.
Mama Sempur juga, sambungnya, berhasil mencetak banyak para santri yang kemudian menjadi ulama yang tersebar di berbagai daerah.
“Mama Sempur merupakan ulama sekaligus Pejuang Kemerdekaan RI. Selain membekali para santri dengan ilmu keagamaan yang kuat, di balik layar, beliau mempersiapkan para Mujahid untuk menghadapi penjajah Belanda,” kata Tubagus Zein.
Terkait hubungannya dengan Syekh Baing Yusuf, Tubagus Zein menuturkan, Mama Sempur (1839 – 1975 ) tidak berguru langsung secara fisik. Ini, dikarenakan pada masa itu, Syekh Baing Yusuf telah wafat (1709 – 1854) bersamaan ketika Mama Sempur berusia 15 tahun.
“Akan tetapi, beliau berguru ilmu dari Syekh Baing Yusuf melalui salah satu muridnya yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram, Makkah, Saudi Arabia, yakni Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani,” ujarnya.
Silsilah
Mama Sempur tercatat mewarisi DNA dari Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Slsilahnya, Mama Sempur merupakan putra pertama dari pasangan K.H. Tubagus Sayyida, yang berasal dari Banten dan Umi, warga asli Plered.
Beliau lahir di Citeko, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta pada tahun 1259 H atau 1839 M dan wafat pada tahun 1975. Dilihat dari jalur ayahnya, silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW seperti yang tertulis dalam karyanya yang berjudul kitab Tanbihul Muftarin halaman 22.
Sesi selanjutnya dilaksanakan pembagian santunan dan takjil kepada anak yatim piatu serta para santri serta kepada masyarakat Plered yang melintas di sekitar jalan raya.
Founder Bela Purwakarta, Aa Komara Cakradiparta, dalam keterangannya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Aa berharap aktivitas kolaborasi berbagi, berziarah dan menelusuri sejarah tokoh-tokoh penyebar syiar Islam ini terus meningkat di Bulan Ramadan tahun depan.
“Di pengujung Ramadan ini, kami sampaikan bahwa sebagai upaya memupuk rasa memiliki terhadap Purwakarta, seyogyanya pembelajaran sejarah terhadap tokoh-tokoh lokal yang sudah secara nyata berjasa untuk Purwakarta, seperti hal nya Mama Sempur, terus dieksplorasi,” ucap Aa.
Sehingga, lanjutnya, semakin banyak literasi yang dapat diakses sebagai asupan informasi penting bagi para generasi penerus dari masa ke masa. “Tujuannya, agar tidak “poekeun obor” atau menjadi generasi yang ahistoris yang terputus dari mata rantai kesejarahan kotanya,” kata Aa. (Red)






