Pendidikan adalah Menjadikan Anak Versi Terbaik dari Dirinya

Dr. H. Srie Muldrianto, M.Pd

ALLAH SWT menciptakan manusia satu sama lain berbeda. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa manusia satu dengan yang lain memiliki kemiripan 100 persen, walaupun mereka terlahir kembar. Oleh karena itu rasanya tidak adil jika proses dan penilaian pendidikan anak diseragamkan.

Proses pendidikan melalui belajar anak, hendaknya dilakukan sesuai kebutuhan, karakteristik, dan budaya lokal anak. Kebutuhan dan karakteristik setiap anak satu sama lain berbeda. Bisa saja seorang anak memiliki kelebihan dalam bidang tertentu tapi lemah dalam bidang lain.

Setiap anak terlahir dan berkembang dari orang tua, tempat, suasana dan lingkungan berbeda. Dapat dikatakan bahwa manusia diciptakan untuk saling kenal, untuk saling melengkapi, dan saling bahu membahu agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup setiap anak berbeda berdampak pada pembelajaran bagi anak juga berbeda.

IEP (Individualized Educational Program) sesungguhnya telah diterapkan pada sekolah berkebutuhan khusus (Diffable: Different ability). Jika saja kita menyadari bahwa sesungguhnya rata-rata kita adalah diffable (berbeda kemampuan) maka IEP juga cocok diterapkan di sekolah umum.

Tapi inilah yang sering kita lupakan kita selalu ingin mengalahkan dan menaklukan orang lain, padahal saya, Anda, dan dia itu pasti berbeda. Dalam hal ini kita perlu merubah paradigma atau kontrak sosial dalam pendidikan. Kita perlu membangun paradigma baru yaitu berkolaborasi bukan berkompetisi, Saling mengisi bukan membenci.

Baca juga:  Persiapkan PTM 100 Persen, Pemkab Purwakarta Genjot Vaksinasi Anak

Guru sebagai tenaga pendidik professional wajib mengetahui perkembangan dan pertumbuhan anak didiknya, mulai dari kebiasaan, latar belakang, minat dan bakat juga kebutuhannya. Setiap anak pada prinsipnya memiliki potensi untuk maju dan berkembang.

Tugas guru adalah mengaktualkan potensi anak agar tumbuh dan berkembang sesuai jati dirinya. Bahkan bukan hanya guru yang hanya menjadi fasilitator dalam proses belajar bagi anak-anak, tapi sekolah secara keseluruhan hendaknya dapat menjadi fasilitator bagi anak-anak.

Sekolah sebagai fasilitator dapat dimaknai sebagai tempat belajar yang dapat membangkitkan gairah dan passion anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi dirinya. Lingkungan sekolah hendaknya diciptakan sebagai lingkungan yang dapat menyapa dan berinteraksi secara positif dengan anak.

Sekolah idealnya dapat menyediakan seluruh fasilitas yang dibutuhkan anak, misalnya tempat yang nyaman, menyenangkan, tempat hiburan, dan tempat yang dapat merangsang imajinasi anak agar menjadi anak yang tumbuh prakarsanya, kreativitasnya, inovasinya, dan kemandirianya. Karena sekolah menjadi fasilitator bagi proses belajar siswa, maka sejatinya sekolah harus dapat memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi anak.

Baca juga:  Suasana Lebaran dan May Day 2023, BPJamsostek Purwakarta Edukasi Aplikasi JMO dan Bagikan Sembako

Mata Pelajaran seperti kesenian harus dapat membangkitkan kelembutan budi, empati, rasa cinta pada sesama dan lingkungannya. Kesenian diarahkan agar siswa dapat mengapresiasi keindahan serta merangsang imajinasi dan kreativitas.

Pendidikan bahasa hendaknya dapat membangkitkan anak untuk menyukai membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara dengan baik. Yang terpenting adalah pembelajaran tidak boleh tegang, menekan, dan menakutkan. Sekolah harusnya menjadi tempat yang dapat membahagiakan peserta didik, karena sekolah dikelola oleh orang-orang profesional di bidang pendidikan.

Pertanyaannya, mengapa pendidikan harus menjadikan anak versi terbaik dari dirinya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali pada hakikat manusia apa, siapa dan bagaimana manusia itu? Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa setiap manusia itu unik, setiap orang memiliki minat dan kecerdasan yang berbeda.

Jika anak dapat belajar sesuai dengan potensinya maka anak dapat belajar dengan penuh gairah, belajar dengan menyenangkan serta mampu menyerap pengetahuan dengan lebih baik sehingga akan melejitkan kecerdasannya ke taraf maksimal.

Dalam teori disiplin positif kita dapat temui cara membangun relasi dengan anak agar terjadi interaksi dengan baik yaitu kenali kesenangan anak, kebanggaan anak, keingintahuan anak, minat anak, tujuan anak, tantangan anak, kebutuhan anak, keyakinan anak, makna hidup anak, dan manfaat bagi anak.

Baca juga:  Isu Tranformasi Keuangan, Muttaqien University Purwakarta Hadirkan Profesor dari UniKL sebagai Dosen Tamu

Jika saja kita sudah menemukan gaya dan relasi dengan anak maka kita dengan mudah melakukan pembelajaran sesuai dengan potensi anak. Yang menjadi sulit adalah pencarian potensi dan bakat anak yang membutuhkan waktu dan kesabaran, oleh karena itu guru profesional hendaknya memahami tugas ini dengan baik. Teaching at the right level (personalisasi pembelajaran) menjadi model pembelajaran di era merdeka belajar.

Dalam sebuah training diajukan sebuah pertanyaan kepada para peserta, Bagaimana caranya Bapak dan Ibu ke Jakarta? Hampir semua peserta menjawab menggunakan kendaraan seperti mobil, motor, kereta dan lain-lain, tapi mereka lupa menanyakan di mana titik awal keberangkatannya?

Begitupun dalam mendidik kita harus mengetahui titik awal dalam memulai belajar, karena starting point anak mungkin berbeda, sehingga prosesnya lebih jelas dan terarah. Oleh karena itu diagnostic assessment menjadi penting diterapkan di sekolah juga di kelas agar guru dan kepala sekolah dapat mengenal dan mengidentifikasi kemampuan dan kebutuhan anak didiknya. (*)

Dr. H. Srie Muldrianto, M.Pd., Dosen dan Aktivis Pendidikan di Purwakarta