Arteria Dahlan Bikin Gaduh, Singgung Warga Sunda

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Arteria Dahlan

IDEANEWSID. Warga Sunda yang dikenal santun dan ramah tengah meradang, pernyataan kontoversial Arteria Dahlan jadi pemicunya.

Betapa tidak, Anggota Komisi III DPR dari fraksi PDI Perjuangan (PDIP) tersebut mengkritik seorang kepala kejaksaan tinggi yang menggunakan bahasa Sunda saat rapat.

Hal ini disampaikan Arteria saat rapat Komisi III DPR dengan Jaksa Agung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/1) lalu. Dalam rapat itu, Arteria meminta Jaksa Agung mengambil tindakan tegas berupa pemecatan.

Baca juga:  Kemarin Tak Sudi Minta Maaf, Arteria Dahlan Hari Ini: Saya Sungguh-sungguh Mohon Maaf

Namun, Arteria tak menyebutkan siapa sosok yang dianggapnya oknum Kajati dan momen rapat yang mana yang dimaksudnya itu.

“Ada kritik sedikit, Pak JA (Jaksa Agung). Ada Kajati Pak, yang dalam rapat dalam raker itu ngomong pake bahasa Sunda, ganti Pak itu,” katanya di hadapan Jaksa Agung.

Dirinya menyayangkan perilaku Kepala Kejati tersebut. Menurut Arteria Dahlan, penggunaan bahasa Sunda tak semestinya digunakan di dalam rapat, melainkan menggunakan bahasa Indonesia. Arteria khawatir tindakan oknum Kajati tersebut malah membuat takut dan bingung peserta rapat.

Baca juga:  Jaga Kelancaran Pilkada Serentak di Jabar, PLN UID Jabar Siagakan 4.138 Personel

“Jadi orang takut, kalau ngomong pake Bahasa Sunda ini orang takut, ngomong apa, dan sebagainya. Kami mohon yang seperti ini dilakukan penindakan tegas,” kata anggota DPR dari Dapil Jawa Timur VI tersebut.

Sontak, pernyataan Arteria Dahlan tersebut menuai reaksi dari berbagai pihak. Satu di antaranya disampaikan Budayawan Sunda, Budi Setiawan Garda Pandawa atau yang akrab disapa Budi Dalton.

Baca juga:  Purwakarta Juara Tiga Besar Nasional Akseptor KB Terbanyak

Melalui akun Instagram @delluuyee, Budi menilai Arteria bersikap rasis. “Hei, percuma euy rakyat menyuarakan toleransi dan persatuan. Wakil rakyatna ge rasis kitu (wakil rakyatnya juga rasis gitu),” ujarnya, Selasa (18/1)

Lagipula, lanjutnya, di dalam sebuah rapat banyak memakai istilah dalam bahasa Inggris atau bahasa daerah yang lain. “Tapi pada saat idiom Sunda ini muncul, kenapa mesti dikritik? Kalau yang berbahasa lain tidak. Koplo sia mah,” ujarnya geram. (Red)