IDEANEWSID. Semakin banyaknya kasus-kasus radikalisme yang muncul di tengah masyarakat Indonesia, menjadikan lembaga pendidikan yaitu sekolah, khususnya pesantren harus menaruh fokus yang besar dalam upaya mencegah dan menanggulanginya.
Dosen Prodi PAI FIS UNJ Dr. Andy Hadiyanto, MA mengatakan, wawasan yang lemah juga sempit seringkali menjadikan guru sebagai tenaga pendidik menggambarkan islam sebagai agama yang kaku dan tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan.
“Para guru agama banyak yang cenderung memilih jalan pintas dalam menjelaskan Islam dengan kalimat yang diawali “kata tuhan” ataupun “kata nabi”,” ujar Andy dalam Pengabdian Kepada Masyarakat Prodi PAI FIS UNJ di di Pesantren Modern Nurul Huda, Cikarageman, Setu, Bekasi Kamis 3 Agustus 2023.
Padahal, dalam memahami sebuah materi pembelajaran islam diperlukan berbagai kajian maupun diskusi yang dapat meluaskan sebuah pola pikir moderasi beragama yang mulai sering dimunculkan pada tahun 2019 dianggap mampu menjadi solusi atas ke khawatiran yang selama ini menyelimuti masyarakat.
“Moderasi beragama pada dasarnya mengacu kepada konsep Islam Wasthiyah atau yang sering dikenal Islam Tengah. Artinya pengamalan nilai-nilai keislaman tidak condong ke kanan atau ekstrimis atau condong ke kiri atau liberalis,” kata Andy.
Kepincangan para lembaga pendidikan yang menerapkan moderasi beragama adalah tidak adanya standar yang jelas dalam menerapkan kegiatan tersebut.
Kurangnya kemampuan mengakses berbagai literature kontemporer maupun terbarukan menjadi salah satu penyebab dari kekosongan standar tersebut.
“Sehingga, ketidak jelasan standar penerapan nilai-nilai moderasi beragama menjadi salah satu tantangan yang harus segera ditanggulangi,” ucap dia.
Melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam moderasi agama, lembaga pendidikan, salah satunya pesantren dapat memulai aktualisasi dalam keikutsertaan menjaga kualitas hasil kegiatan pendidikan.
“Internalisasi nilai-nilai moderasi beragama ini dapat ditempuh melalui mata pelajaran tafsir. Hal tersebut dikarenakan pelajaran tafsir memiliki dampak yang cukup besar pada diri seseorang,” ujar Andy.
Dalam Kesempatan ini Dosen Prodi PAI FIS UNJ Dr. Hj. Robiah Ummi Kulsum, M.Pd.I menambahkan peran guru dalam imlementasinya perlu pengetahuan dalam pemersiapan bahan ajar yang tepat dalam mata pelajaran tafsir dapat dikatakan sebagai wadah yang memberi juga menanamkan paradigma beragama yang baik dan benar.
Selain itu, tujuan dari pelajaran tafsir juga selaras dengan tujuan pendidikan nasional yaitu menghasilkan individu peserta didik yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.
“Sehingga isu-isu radikalisme yang sering menjadikan pelajar dan mahasiswa sebagai sasaran dapat berkurang,” kata Robiah.






