IDEANEWSID. Tenaga pendidik atau guru di Pesantren Modern Nurul Huda, Cikarageman, Setu, Bekasi dibekali pemahaman hadis-hadis tentang sabar. Pelatihan ini bagian dari pengabdian kepada masyarakat prodi PAI FIS UNJ, Kamis 3 Agustus 2023.
Dosen Prodi PAI FIS UNJ Khairil Ikhsan Siregar, Lc., MA mengatakan, program ini dilaksanakan keempat tahun bersama mitra yang sama, yaitu Pesatren Modern Nurul Huda Cikaregenan Setu, Bekasi, karena alasan kesepakatan dari dosen prodi PAI menjadikannya tempat binaan PKMF prodi PAI FIS UNJ.
Tema yang diusung pada pengabdian kepada masyarakat yang keempat ini memahami makna sanad, matan atau isi hadis-hadis sabar, hingga kualifikasinya.
“Bagi guru-guru mitra masih perlu berbagi pengalaman ilmu dalam memperkenalkan macam-macam metode syarh atau penjelasan hadis. Maka melalui pelatihan ini dengan memberikan pengayaan dan diskusi pendalaman materi hadis-hadis sabar dengan langkah-langkah kajian hadis tematik diharapkan guru-guru semakin termotivasi memahami hadis- hadis secara berkelanjutan,” ucap Khairil.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melakukan langkah mengumpulkan bahan-bahan berkaitan dengan tema materi kegiatan, mensurvei lokasi kembali sebagai tempat kegiatan, mengkomunikasikan dan mengsingkronkan bagaimana upaya kerja sama dengan mitra dalam pelaksanaan kegiatan PKMF kemudian menawarkan kepada mitra bentuk kegiatan ini akan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan maupun workshop kemudian ditutup dengan kuis dan evaluasi.
Pada program pengadian kepada masyarakat ketiga bersama mitra konsentrasinya Tema yang diusung pada pengabdian kepada masyarakat yang ketiga ini adalah “Pelatihan mengimplementasi metode tahalili (analitik) dalam memahami makna perdamaian dan kerukunan masyarakat dalam alqur’an dan hadis”.
“Maka pada kali ini sebagai pertemuan tahun keempat tetap masih melakukan pengabdian masyarakat dalam bentuk pengayaan materi keislaman yaitu tentang hadis-hadis sabar dan langkah memahami hadis dengan metode kajian hadis tematik,” ujar Khairil.
Sesungguhnya mengkaji hadis dan ilmunya itu sangat luas untuk dikaji dan perlu dipahami secara terus menerus.
Kegiatan PKMF berdasar situasi dan kondisi Mitra masih terus memeperlukan secara khusus bagi para sumberdaya manusia para guru pesantren agar terus belajar dan mengembangkan dirinya.
“Terutama melihat dari kebutuhan guru-guru disamping mereka sebagai guru di pesantren mereka juga tidak terlepas dari kegiatan mengajar di masyarkat tentu berbagi keilmuan islam mitra sangat membutuhkan berbagai pencerahan dan penambahan ilmu keislamannya,” ungkap Khairil.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendapatkan hasil sebagaiberikut: para guru pesantren sangat antusias untuk menerima informasi ilmu, dan mengajukan pembimbingan dan mengharap dapat belajar lewat media, whatsapp atau menelepon langsung.
Pengelompokan peserta dalam kelompok kecil untuk mendalami materi pelatihan mebuat perserta lebih dekat dan akrab memberikan pertanya langsung kepada pemateri.
“Kerja sama dengan mitra dalam pelaksanaan kegiatan PKMF bahwa dari pihak mitra agar kerjasama keilmuan ini berlanjut tidak berhenti, dan kegiatan PKMF kemudian ditutup dengan kuis dan evaluasi,” ujar Khairil.
Dari pelaksana kegiatan ini, setelah berintraksi dengang masyarakat luas dan khsusnya guru-guru pesantren Pesantren Modern Nurul Huda mendapat masukanberharga bagi mitra terutama tentang kajian Islam.
Dari mitra mengahapkan kegiatan seharusnya berkesinambungan dengan dan memilih tema yang mitra butuhkan dan masukan solusi dari dosen-dosen yang menurut padangan mereka sebagai guru-guru atau pengilmu yang memiliki wawasan dan pengalaman menjadi upaya-upaya menyelesaiakan masalah- masalah yang berkembang di sekolah-sekolah.
Pemantapan memahami materi hadis-hadis sesuatu yang harus dimiliki para guru dan menguasainya sehingga seorang guru sangat nyaman dan termotivasi untuk mengembangkan terus-menerus di pesantren dan di masyarakat.
Penguasaan materi hadis dari berbagai kajiannya suatu upaya yang harus dilakukan agar benar-benar paham maksud hadis sehingga dapat mengikuti dan mengamalkan isi dengan berdasar keilmuan yang benar mendapatkan dari pembelajaran yang benar dan luas.
Langkah memahami sanad / jalur periwayatan hadis yang mengangkat sampai kepada pembawa hadis pertama atau sumber pertamanya. Kajian ini sangat luas dan diharuskan dengan tujuan mendapatkan penejelasan dari ulama hadis tentang kualitas hadis yang disepakati ulama hadis kepada 3 katagori, shahih, hasan, dha’if atau hadis palsu.
Sedangkan mempelajari matan/ isi hadis ulama hadis menetapkan unsur kajian hadis yang harus dikuasai dengan lahirnya penjelasan dari ulama tentang teks hadis baik dengan berbagai temuan, seperti bahwa teks dari perkataan Rasulullah, matan sebagai makna hadis, ataupun bukan dari keduanya akan tetapi adalah matan hadis lemah atau dha’if bahkan disepakati ulama hadis sebagai hadis palsu.
Ulama hadis menjadikan ilmu kritik hadis sub pembahasan dalam buku ilmu hadis karena hadis telah melawati masa yang panjang dengan terjadinya upaya-upaya pemalsuan karena keinginan-keinginan dari kelompok fatanatik dan individu yang menginginkan kehancuran islam dan karena umat mayakini hadis nabi Saw, memiliki otoritas bagi umat maka bagi orang yang tidak beriman sempurnah dan menginkan kehancuran islam menjadikan upaya pemalsuan hadis dengan jumlah banyak sekali sejak kepemimpian Khalifah Ali ra. setelah terjadinya perang shifin perang sauada antara sahabat Rasul Umayyah bin Abi Sofyan dan Khalifah Ali ra telah terjadi fitnah saat itu. Dari kejadian itu berkembanglah pemalsuan hadis yang fanatik dan menyanjung Khalifah Ali maupun hadis yang mendukun Umayyah bin Abi Sofyan.
Kedudukan hadis begitu penting bagi umat islam, ulama hadis dari masa ke masa terus bersama dengan ulama tafsir mengembangkan cara atau metode memahami hadis nabi Saw. Salah satu dari metode penelasan hadis/ syarh menjadi materi dalam pelatihan ini yaitu metode kajian hadis tematik. Ulama hadis telah mewariskan metode hadis tematik dalam upaya menjelaskan hadis secara tematik yang mana tema-tema hadis sangat banyak jumlahnya dan kajiannya pun banyak, mulai dari kajian bahasa, validasi teks, dan sebab lahirnya sebuah hadis dan penjelasan ulama tentang hadis dan sempulannya.
Metode maudhu’i adalah metode pembahasan hadis sesuai dengan tema tertentu yang dikeluarkan dari sebuah buku hadis. Semua hadis yang berkaitan dengan tema tertentu, ditelusuri dan dihimpun yang kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek. Misalnya, pendidikan menurut perspektif hadis dalam kitab karya Al-Bukhari atau wanita dalam kitab karya Muslim, atau menghimpun hadis-hadis yang berbicara tentang puasa ramadhan, ihsan (berbuat baik) dan lain sebagainya.
Metode maudhu’i dapat diandalkan untuk memecahkan permasalahan yang terdapat dalam masyarakat, karena metode ini memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berusaha memberikan jawaban bagi permasalahan tersebut yang diambil dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan Hadis, disamping memperhatikan penemuan manusia. Sebagai hasilnya, banyak bermunculan karya ilmiah yang membahas topik tertentu menurut perspektif al-Qur’an dan Hadis. Contohnya, perempuan dalam pandangan Al-Qur’an dan hadis, dan lain-lain.
Kelebihan metode maudhu’i selain karena dapat menjawab tantangan zaman dengan permasalahannya yang semakin kompleks dan rumit, metode ini juga memiliki kelebihan yang lain, diantaranya:
Praktis dan Sistematis
Metode tematik disusun secara praktis dan sistematis dalam memecahkan permasalahan yang timbul. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan petunjuk al-Qur’an dan hadis dengan waktu yang lebih efektif dan efesien.
Dinamis
Metode tematik membuat tafsir Al-Qur’an dan hadis selalu dinamis sesuai dengan tuntutan zaman. Sehingga, masyarakat akan terasa bahwa al-Qur’an dan hadis selalu aktual (updated), tak pernah ketinggalan zaman (outdated) dan mereka tertarik untuk mengamalkan ajaran-ajarannya.
Meski tidak mustahil hal ini didapatkan dari ketiga metode yang lain, namun hal itu bukan menjadi sasaran yang pokok.
Membuat Pemahaman Menjadi Utuh
Dengan ditetapkannya tema tertentu, maka pemahaman kita terhadap hadis Nabi saw. menjadi utuh. Kita hanya perlu membahas segala aspek yang berkaitan dengan tema tersebut tanpa perlu membahas hal-hal lain diluar tema yang ditetapkan.
Penjelasan antar hadis dalam metode maudhu’i bersifat lebih integral dan kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami.
Adapun kekurangannya ialah metode ini terikat pada tema yang telah ditetapkannya dan tidak membahas lebih jauh hal-hal diluar dari tema tersebut, sehingga metode ini kurang tepat bagi orang yang menginginkan penjelasan yang terperinci mengenai suatu hadis dari segala aspek.
Bedasarkan uraian situasi dan kondisi Mitra khsususnya guru-gurunya yang menjadi peserta latih maka dapat dirincikan beberapa identifikasi masalah sebagai berikut:
Latar belakang keilmuan islam para peserta latih masih minim tentang kajian ilmu baik hadits dan ilmunya.
Tantangan para guru-guru baik di dalam pesanten maupun di masyarakatperlu ada pencerahan keilmuan islamnya secara berkesinambungan.
Kajian ilmu hadits mengenal penyandaran hadits diantara tema-tema hadits yang harus dikuasai.






